Senin, 14 September 2026

BRICS Soroti Peran Indonesia Pimpin Mangrove Alliance for Climate

Laporan oleh Wilda Aulia Maulida Afni
Bagikan
Prabowo Presiden RI menghadiri sesi terbatas KTT ke-18 BRICS, di New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026). Foto: Biro Pers Setpres

Negara-negara BRICS menyoroti peran Indonesia bersama Uni Emirat Arab (UEA) dalam memimpin Mangrove Alliance for Climate (MAC), sebagai salah satu platform kerja sama internasional untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan.

Pengakuan tersebut tercantum dalam New Delhi Declaration yang dihasilkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS XVIII di New Delhi, India, 12-13 September 2026.

Dalam bagian deklarasi yang membahas perlindungan hutan dan pemulihan ekosistem, para pemimpin BRICS secara khusus mencatat keberadaan Mangrove Alliance for Climate yang dipimpin bersama oleh UEA dan Indonesia.

“Kami mencatat Mangrove Alliance for Climate, yang dipimpin bersama oleh Uni Emirat Arab dan Indonesia, sebagai platform untuk kerja sama internasional,” demikian pernyataan dalam deklarasi tersebut.

Penyebutan Indonesia muncul bersamaan dengan komitmen BRICS untuk memperkuat konservasi hutan, pemulihan lahan, dan perlindungan berbagai ekosistem yang memiliki peranan dalam menghadapi perubahan iklim.

BRICS menilai berbagai jenis hutan, termasuk hutan tropis, memiliki fungsi penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, daerah aliran air dan tanah. Hutan juga berperan dalam mengatur siklus hidrologi, melawan desertifikasi, degradasi lahan dan kekeringan, serta menjadi penyerap karbon.

Selain fungsi lingkungan, hutan dinilai memiliki peran terhadap kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal yang memanfaatkan sumber daya tersebut secara berkelanjutan.

“Kami menekankan peran penting seluruh jenis hutan, termasuk hutan boreal dan tropis, dalam melestarikan keanekaragaman hayati, daerah aliran air dan tanah, serta sebagai penyerap karbon yang penting,” tulis BRICS dalam deklarasinya.

Para pemimpin BRICS juga mendorong pertukaran praktik terbaik dalam pengelolaan dan restorasi hutan secara berkelanjutan.

Dalam deklarasi itu, negara-negara anggota menyambut adopsi BRICS Principles for Integrated Landscape-Based Greening and Land Restoration serta kesepahaman bersama mengenai kesiapsiagaan dan penanganan kebakaran hutan di negara-negara BRICS.

Selain Mangrove Alliance for Climate, deklarasi turut menyoroti sejumlah inisiatif lingkungan internasional lainnya.

BRICS menyambut peluncuran Tropical Forest Forever Facility pada Belém Climate Summit. Mekanisme tersebut dipandang sebagai salah satu instrumen inovatif untuk menghimpun pembiayaan jangka panjang berbasis hasil bagi konservasi hutan tropis.

Negara-negara yang berpotensi menjadi investor juga didorong memberikan kontribusi untuk mendukung permodalan dan pelaksanaan fasilitas tersebut.

BRICS juga mencatat inisiatif United for Our Forests dan berbagai program penghijauan skala besar di tingkat nasional yang diarahkan untuk konservasi, pengelolaan berkelanjutan, serta pemulihan ekosistem tropis.

Mangrove Masuk Agenda Pemulihan Ekosistem
Dalam poin berikutnya, BRICS secara khusus memasukkan mangrove sebagai salah satu ekosistem yang perlu mendapat perlindungan dan pengelolaan secara terintegrasi.

Para pemimpin BRICS menilai dunia menghadapi sejumlah tantangan lingkungan yang semakin serius, mulai ketersediaan air, desertifikasi, kekeringan, degradasi lahan, badai pasir dan debu, hingga kebakaran hutan.

Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap ekosistem, sektor pertanian, kehidupan masyarakat rentan, hingga pembangunan sosial dan ekonomi.

“Kami berkomitmen terhadap perlindungan terintegrasi dan pengelolaan sistematis pegunungan, sumber daya air, hutan, lahan gambut dan mangrove, lahan pertanian, padang rumput serta gurun untuk pemulihan ekosistem secara menyeluruh,” demikian isi deklarasi tersebut.

Agenda lingkungan itu juga terhubung dengan kebijakan BRICS menghadapi perubahan iklim secara lebih luas.

BRICS menilai BRICS Climate Research Platform dan BRICS Laboratory for Trade, Climate Change and Sustainable Development dapat digunakan untuk memperkuat aksi iklim dan ketahanan negara-negara anggotanya.

Negara-negara BRICS juga mendukung peningkatan kerja sama pasar karbon, termasuk peningkatan kapasitas dan pertukaran pengalaman antarnegara. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung strategi iklim masing-masing anggota, termasuk upaya mitigasi serta mobilisasi sumber pembiayaan.

Masuknya Mangrove Alliance for Climate dalam New Delhi Declaration menjadi salah satu poin yang secara langsung menyebut peran Indonesia dalam kerja sama lingkungan internasional.

Dalam deklarasi tersebut, BRICS tidak merinci program baru ataupun target khusus Indonesia melalui Mangrove Alliance for Climate. Dokumen juga tidak menyebut nama pejabat Indonesia maupun UEA yang mewakili aliansi tersebut.

Namun, deklarasi menempatkan inisiatif yang dipimpin bersama Indonesia dan UEA itu dalam rangkaian upaya internasional untuk melindungi hutan, mangrove, dan ekosistem lain sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim. (aul/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Senin, 14 September 2026
27o
Kurs