Jumat, 25 September 2026

Dari Air AC hingga Air Hujan, Beragam Cara Warga Menghemat Air Hadapi El Nino

Laporan oleh Ananda Maharani
Bagikan
Ilustrasi, warga menghemat penggunaan air melalui pemanfaatan tandon dan pengelolaan tanaman hidroponik di tengah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Foto: Ilustrasi AI

Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino bukan hanya menjadi persoalan pemerintah. Masyarakat juga punya peran penting dalam menjaga ketersediaan air, mulai dari mengubah kebiasaan sehari-hari, memperbaiki pengelolaan lingkungan, hingga memanfaatkan kembali air yang masih bisa digunakan.

Berbagai pengalaman dan gagasan itu mengemuka dalam diskusi interaktif Radio Suara Surabaya (SS), Senin (10/8/2026). Para pendengar berbagi cara menghadapi El Nino, sekaligus menyoroti tingginya konsumsi air dan potensi peningkatan kebutuhan listrik saat musim kemarau.

Diskusi tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah mengantisipasi dampak El Nino. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mengembangkan sejumlah teknologi, mulai dari modifikasi cuaca, desalinasi air laut, hingga pengolahan air limbah menjadi air siap minum.

Namun, bagaimana kesiapan masyarakat menghadapi musim kemarau yang lebih panas dan kering?

Pasokan Air Surabaya Aman, tetapi Konsumsi Warga Masih Tinggi

Louis Andi Lun Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya mengungkapkan, pasokan air bersih di Surabaya belum mengalami pengurangan meskipun terdapat ancaman El Nino.

Menurutnya, letak geografis Surabaya yang berada di wilayah hilir menjadi salah satu keuntungan dalam menjaga ketersediaan air baku. Sekitar 94 persen air yang diolah Perumda Air Minum Surya Sembada berasal dari air sungai.

Meski pasokan masih terjaga, Louis justru menyoroti kebiasaan masyarakat Surabaya yang dinilainya masih cukup boros menggunakan air.

Rata-rata konsumsi air warga mencapai 225 liter per orang setiap hari. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan standar penggunaan yang disebutnya berkisar antara 150 hingga 170 liter per orang per hari.

Ia mengingatkan, konsumsi air berpotensi semakin meningkat ketika musim kemarau. Karena itu, masyarakat perlu mulai membiasakan diri menghemat air meskipun belum mengalami kesulitan pasokan.

Persoalan pengelolaan air turut disoroti Bambang Handoko, alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, tantangan menghadapi El Nino bukan hanya soal ketersediaan air, melainkan juga kemampuan manusia mengelola sumber daya tersebut.

Bambang menilai, berkurangnya ruang terbuka hijau dan pencemaran sungai membuat pengelolaan air semakin rumit. Ia mendorong pembangunan infrastruktur yang memungkinkan air hujan meresap ke dalam tanah untuk menjaga cadangan air.

Belajar dari Kampung yang Menampung Air Hujan

Upaya menjaga ketersediaan air ternyata sudah dilakukan warga di tingkat kampung.

Lukas Prastowo Ketua RW 1 Banjar Sugihan menceritakan sejumlah kegiatan yang dijalankan di wilayahnya, yang telah menyandang predikat Kampung ProKlim Lestari tingkat nasional.

Warga mulai membiasakan diri menampung air hujan, memperbaiki kebocoran pipa, membuat lubang resapan, hingga melakukan gerakan menanam pohon.

Tak berhenti di situ, warga juga mengembangkan hidroponik dan menanam berbagai tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Pengelolaan sampah menjadi bagian lain dari kegiatan lingkungan di kampung tersebut. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara warga mulai mencoba mengembangkannya menjadi pakan. Botol plastik juga dikumpulkan untuk dikelola secara terpisah.

Menariknya, balai RW dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan.

Pengalaman berbeda dibagikan Djoko Hendra, seorang pengemudi transportasi online. Ia mengaku tagihan air keluarganya yang beranggotakan enam orang tidak lebih dari Rp100 ribu setiap bulan.

Salah satu cara yang diterapkannya adalah menggunakan sistem tandon bawah dan tandon atas untuk mengatur distribusi air di rumah. Djoko juga memanfaatkan air buangan AC untuk mencuci mobil sehingga tidak perlu menggunakan air PDAM.

Sementara itu, Ustaz Bangun Samudra mengajak masyarakat membiasakan diri menghemat air saat berwudu di masjid. Menurutnya, penggunaan air untuk berwudu kerap berlebihan, padahal tidak membutuhkan air sebanyak ketika mandi.

Hemat Air Sekaligus Hemat Listrik

Selain ancaman kekeringan, para pendengar mengingatkan bahwa El Nino juga berpotensi meningkatkan kebutuhan energi.

Jumadi pendengar Suara Surabaya (SS) seorang wiraswasta, menyoroti kemungkinan terganggunya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ketika debit air menurun akibat kemarau panjang.

Arif Firmansyah, pendengar SS lainnya, mengingatkan bahwa cuaca panas berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan konsumsi listrik pada bangunan.

Ia mendorong penerapan konsep green building atau bangunan ramah lingkungan yang mampu menghemat listrik sekaligus mengolah kembali air limbah.

Senada dengan itu, Moch. Rudi Santoso pendengar SS menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu kunci penghematan air. Ia menyoroti harga air yang relatif murah sehingga sebagian masyarakat belum merasa perlu membatasi penggunaannya.

Rudi mendorong pemanfaatan teknologi daur ulang air limbah, penyediaan tandon untuk menjaga cadangan air bersih, serta pembatasan penggunaan air tanah.

Berbagai pengalaman para pendengar tersebut menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi El Nino dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah hingga gerakan bersama di lingkungan kampung.

Penghematan air, perbaikan daerah resapan, dan pengelolaan limbah menjadi langkah yang bisa dilakukan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air, tidak hanya ketika musim kemarau tiba, tetapi juga untuk kebutuhan jangka panjang. (nda/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 25 September 2026
31o
Kurs