Komaruddin menjelaskan, platform digital memperoleh perhatian pengguna, data, dan pendapatan iklan dalam jumlah besar dari konten yang beredar. Sementara jurnalis dan perusahaan media belum tentu memperoleh bagian yang sebanding dari nilai tersebut.
“Ekonomi platform sering kali mengambil porsi substansial dari nilai ekonomi yang dihasilkan oleh konten, sementara jurnalis dan organisasi yang menciptakan konten tersebut hanya menerima porsi yang kecil,” ujarnya.
Komaruddin menilai persoalan itu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut etika. Sebab, jurnalisme merupakan pelayanan publik sekaligus salah satu pilar demokrasi.
Ia mengatakan, jurnalis berperan penting dalam mencari dan memverifikasi fakta, menyelidiki kekuasaan, menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta memberi ruang bagi kelompok yang kurang terwakili.
Karena itu, menurut Komaruddin, jurnalisme tidak boleh dibiarkan berada dalam kondisi ekonomi yang tidak berkelanjutan, terutama ketika karya jurnalistik menjadi bagian penting dari ekosistem informasi digital.
NOW ON AIR SSFM 100

