Aries Agung Paewai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mengingatkan generasi muda agar tidak menyerahkan sepenuhnya proses berpikir kepada teknologi kecerdasan buatan (AI).
Aries mengatakan, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, generasi muda yang menjadi calon pemimpin masa depan harus tetap mampu berpikir mandiri, memeriksa data, dan melakukan telaah sebelum mengambil keputusan.
“Seorang pemimpin harus memiliki pemikirannya sendiri. Harus berdasarkan checking data dan telaah,” terangnya pada Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Gen Z saat ini semakin kompleks. Selain perkembangan AI, generasi muda juga menghadapi algoritma, disinformasi, polarisasi, serta tuntutan kompetensi global.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi yang dibarengi dengan wawasan kebangsaan sebagai landasan dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.
“Wawasan kebangsaan bukan sekadar hafalan, tapi cara kita memandang Indonesia sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.
Aries menilai, murid di Jatim, termasuk dari sekolah taruna, perlu dipersiapkan menjadi generasi yang mampu belajar menguasai teknologi terbaru, menggunakan AI secara bijak, menguasai bahasa internasional, dan membangun jejaring global.
“Belajar dari dunia, lalu membawa manfaatnya pulang ke Indonesia,” ucapnya.
Kemampuan teknologi, lanjut dia, juga harus berjalan beriringan dengan karakter kepemimpinan. Ia menyebut tiga kemampuan yang perlu dibangun sejak dini, yakni memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, dan memimpin perubahan.
Ia menegaskan, karakter kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari.
Dalam hal ini, murid perlu membiasakan diri tidak mencontek, tidak memalsukan laporan, tidak menyalahgunakan jabatan, tidak merendahkan junior, berani mengakui kesalahan, dan berani menyampaikan kebenaran meskipun tidak populer.
Ia juga menilai kebutuhan dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025, Aries menyebut analytical thinking, resiliensi dan fleksibilitas, kepemimpinan dan pengaruh sosial, creative thinking, literasi teknologi, empati, serta kemauan belajar sepanjang hayat menjadi kemampuan penting yang harus dipelajari.
“Sementara kemampuan AI dan big data termasuk kompetensi yang pertumbuhannya paling cepat dibutuhkan dunia kerja,” imbuhnya.
Dengan kondisi itu, pihaknya mendorong murid untuk memperkuat 5C, yakni character, competence, courage, compassion, dan contribution.
Menurutnya, penguasaan teknologi dan AI tidak cukup jika tidak diikuti kemampuan berpikir kritis, karakter, integritas, dan kemauan memberikan kontribusi bagi bangsa. (ris/saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

