Kamis, 23 Juli 2026

Dinkes Sidoarjo Perluas Skrining HIV Setelah Catat 7.230 Kasus HIV/AIDS

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi. HIV/AIDS. Foto: Freepik

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo memasifkan skrining HIV setelah mencatat 7.230 kasus HIV/AIDS secara kumulatif sejak 2001 hingga pertengahan 2026. Pemeriksaan akan diperluas ke sejumlah lokasi yang dinilai memiliki risiko penularan tinggi.

Sepanjang 2026, Dinkes Sidoarjo menargetkan 60 kegiatan skrining HIV. Sebanyak 30 kegiatan telah dilaksanakan, sedangkan 30 kegiatan berikutnya akan dimulai pada Juli dengan menyasar tempat hiburan malam, lokalisasi terselubung, dan lokasi berisiko lainnya.

Dinkes menegaskan besarnya jumlah kasus yang tercatat tidak serta-merta menunjukkan penularan HIV semakin meningkat. Angka tersebut juga dipengaruhi oleh semakin luasnya kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan.

Lakhsmie Herawati Yuwantina Kepala Dinkes Sidoarjo mengatakan, skrining diperlukan agar orang yang terdeteksi HIV bisa segera mendapatkan terapi antiretroviral atau ARV. Pengobatan tersebut dapat menekan jumlah virus dalam tubuh sekaligus mengurangi risiko penularan.

“Harapannya nanti ketika ada skrining, viral load-nya juga sudah semakin sedikit dan tidak terdeteksi lagi, sehingga dia tidak berisiko untuk menularkannya,” kata Lakhsmie dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).

Selain pengobatan, Dinkes bersama Yayasan Delta Crisis Center juga memberikan pendampingan kepada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA. Pendampingan dilakukan untuk memberikan dukungan emosional, mengurangi stigma, serta memastikan pasien disiplin mengonsumsi ARV.

“Pendampingan sifatnya memberikan dukungan supaya stigma masyarakat berkurang, kemudian yang bersangkutan juga rajin minum ARV,” ujarnya.

Jumlah Kasus Pelajar
Dinkes juga mencatat 60 kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun sejak 2001. Sebanyak tujuh orang telah meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih menjalani pengobatan dan pendampingan intensif.

Menurut Lakhsmie, kasus pada kelompok usia remaja dipengaruhi rasa ingin tahu, pergaulan, serta paparan media sosial yang dapat mendorong perilaku berisiko. Temuan di lapangan juga menunjukkan sebagian kasus berkaitan dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Untuk memperkuat pencegahan, sosialisasi akan diperluas dengan melibatkan puskesmas, sekolah, dan perusahaan. Edukasi akan difokuskan kepada remaja dan kelompok usia produktif mengenai bahaya hubungan seksual tanpa pengaman serta penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Dinkes mengimbau masyarakat tidak mendiskriminasi ODHA. HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk.

“Penularan virus HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau dari ibu positif HIV kepada bayi selama kehamilan dan menyusui,” jelas Lakhsmie.

Ia juga mengingatkan ODHA tetap mengonsumsi ARV sesuai dosis dan jadwal meskipun kondisi tubuh telah terasa sehat. Kepatuhan menjalani pengobatan dibutuhkan untuk menekan perkembangan virus dan mencegah penularan. (bil/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Besi Terguling di Sukomanunggal Surabaya

Muatan Menggunung

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Surabaya
Kamis, 23 Juli 2026
28o
Kurs