Kamis, 10 September 2026

DLH Jatim Sebut Pencemaran Kali Surabaya Imbas Kebakaran Gudang PT Wings Surya di Gresik

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Kondisi Kali Surabaya di Rolak Gunung Sari pada Minggu (6/9/2026). Foto: Akira suarasurabaya.net

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur mengonfirmasi bahwa pencemaran Kali Surabaya yang terjadi pada Minggu (6/9/2026) lalu, merupakan imbas dari kebakaran gudang PT Wings Surya di Driyorejo Gresik.

Untuk diketahui Gudang PT Wings Surya terbakar pada Jumat (4/9/2026) lalu. Dalam proses pemadamannya, petugas menggunakan campuran air dan foam, yang mana kemudian sisa pemadaman itu mengalir ke saluran drainase.

“Namun, PT Wings Surya sudah melakukan upaya pengendalian dengan membuat tanggul darurat untuk mencegah limpasan air mengalir lebih jauh menuju Kali Tengah dan Kali Surabaya,” kata Nurkholis Kepala DLH Jatim, dalam keterangan yang diterima, Kamis (10/9/2026).

Karena dampak itu, Nurkholis menyatakan kalau pihak PT Wings Surya telah bersedia untuk melakukan pemulihan di Kali Surabaya. Mereka bakal bekerja sama dengan Konsorsium Lingkungan Hidup untuk melakukan penyisiran dan pembersihan bangkai ikan di sepanjang Kali Surabaya, mulai dari muara Kali Tengah hingga Pintu Air Jagir.

“Dalam koordinasi penanganan, PT Wings Surya menyatakan kesediaannya untuk mendukung upaya pemulihan Kali Surabaya. PT Wings Surya juga akan berkoordinasi dengan PJT I, PDAM Kota Surabaya, DLH Provinsi Jawa Timur, dan DLH Kabupaten Gresik untuk membahas langkah pemulihan kualitas air Kali Surabaya paling lambat Kamis (10/9/2026) hari ini,” tambahnya.

Selain itu, sebagai upaya pemulihan ekosistem, PT Wings Surya juga telah menyiapkan pelepasan bibit ikan jenis endemik Kali Surabaya.

DLH Kabupaten Gresik selanjutnya juga akan melakukan pengawasan terhadap ketaatan lingkungan hidup PT Wings Surya pada pekan kedua September 2026.

Pengawasan tersebut dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut terhadap hasil verifikasi lapangan serta untuk memastikan pemenuhan kewajiban perusahaan dalam pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup.

Nurkholis menegaskan bahwa penanganan kejadian ini dilakukan secara terukur, terpadu, dan berbasis data.

“Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Kali Tengah dan Kali Surabaya, sementara hasil pengujian laboratorium akan digunakan untuk memperkuat analisis mengenai kualitas air, dampak terhadap ekosistem, serta menentukan langkah penanganan dan pemulihan berikutnya,” tutupnya.

Sebelumnya, pada Minggu (6/9/2026) beberapa pendengar Radio Suara Surabaya mengeluhkan kualitas air PDAM yang berwarna keruh, berbusa, dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Louis Andilun Gatu Manajer Tata Usaha dan Humas PDAM Surya Sembada mengatakan, gangguan berawal dari menurunnya volume air, ditambah polutan yang ikut mencemari kualitas air baku yang masuk ke Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karang Pilang, pada Sabtu (5/9/2026) malam.

“Kualitasnya menurun. Jadi kualitas yang dari Sungai PJT (Perum Jasa Tirta), Sungai Surabaya itu levelnya berkurang, tapi enggak mengganggu produksi. Cuman kualitasnya yang jelek akhirnya. Karena polutannya stabil tapi volumenya (air baku) menurun,” ujarnya saat on air di Radio Suara Surabaya, Minggu (6/9/2026).

Ia menjelaskan, air baku yang diolah IPAM Karang Pilang berasal dari Sungai Surabaya dan dipasok melalui PJT I. Menurut Louis, kualitas air baku yang seharusnya diterima pada kategori dua saat gangguan.

“Tapi sekarang yang kami dapat tiga, bisa empat, bahkan semalam itu bisa lebih dari empat. Tidak layak sebenarnya semalam,” katanya.

Bahkan, kondisi ini menurutnya lebih ekstrem jika dibandingkan dengan pencemaran yang terjadi pada 2010 lalu. Tingginya kandungan polutan membuat proses pengolahan di IPAM Karang Pilang kewalahan.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya bisa kami tangani, tapi ini yang semalam sampai kewalahan,” tambahnya.

Pada kondisi normal, kata Louis, polutan masih bisa dihentikan sejak tahap awal pengolahan, sehingga tidak sampai masuk ke proses berikutnya. “Jadi hanya di pengendapan pertama, air kotor itu bisa kami hentikan,” jelasnya.

Namun pada Sabtu malam, polutan tidak dapat sepenuhnya ditahan. Air terus masuk melewati tahapan pengolahan, hingga proses filtrasi yang merupakan penyaringan terakhir.

“Semalam ini benar-benar di proses sedimentasi kami enggak bisa hentikan, masuk ke clarifier, tambah bahan kimia enggak bisa kami hentikan. Masuk ke filter enggak bisa kami hentikan. Ketika masuk filter itu penyaringan kami yang terakhir, sehingga yang distribusi ke masyarakat ya dari situ,” katanya.

Akibatnya, sebagian air dengan kandungan polutan sempat masuk ke jaringan distribusi pelanggan. Gangguan terutama dirasakan pelanggan yang mendapatkan pasokan dari IPAM Karang Pilang, termasuk kawasan Kebraon, Kedurus, Pondok Maritim, Putat Gede, Tanjung Sari, serta sejumlah wilayah Surabaya Selatan dan Barat.

Louis menegaskan busa yang muncul pada air bukan disebabkan banyaknya bahan kimia pengolahan, tapi tingginya kandungan organik dalam air baku. “Jadi busa itu ditimbulkan karena organik yang muncul yang tinggi,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi itu, PDAM Surya Sembada menambah dosis klorin atau disinfektan guna membunuh bakteri dan kandungan organik. Penambahan itu yang membuat sebagian air yang sudah lebih jernih masih tercium bau kaporit.

“Itu kami benar-benar tambah disinfektan. Artinya jangan sampai organik tadi masuk ke masyarakat, ke warga,” kata Louis.

Selain itu, sejak Sabtu malam, petugas juga bekerja lembur membuang air yang sudah terlanjur masuk ke jaringan distribusi, melalui sejumlah titik wash out. “Sudah kadung masuk ke pipa jaringan, dibuang semua. Teman-teman dari produksi sampai distribusi semua lembur, air dibuang semua,” ujarnya.

Kapasitas produksi juga ditingkatkan agar proses penggelontoran sisa air kotor dari jaringan bisa dilakukan tanpa mengurangi pasokan kepada pelanggan.

Sebelumya, PDAM Surya Sembada juga telah bersurat kepada PJT I sejak, Jumat (4/9/2026), setelah mendeteksi peningkatan kandungan organik dan penurunan volume air baku. PDAM meminta tambahan debit untuk membantu mengencerkan konsentrasi polutan.

“Kami sudah bersurat terkait kok volumenya turun, tolong ditambah, tolong digelontor. Cuma tambahnya enggak signifikan, hanya sedikit saja,” kata Louis.

Sementara pada Minggu pagi, kualitas air baku yang masuk ke IPAM Karang Pilang dilaporkan mulai membaik, dan proses pengolahan berangsur normal.

“Pagi ini alhamdulillah sudah bersih. Jadi tadi saya monitor dari tadi pagi jam lima itu akhirnya sudah berkurang. Jadi yang sampai ke pelanggan itu adalah air sisa-sisa semalam sebenarnya,” jelasnya.

Petugas saat ini masih melakukan pembuangan sisa air yang tercemar dari jaringan sekunder dan tersier. Louis mengimbau pelanggan yang masih menerima air keruh, berbusa, atau berbau segera melapor agar petugas dapat melakukan wash out pada jaringan di sekitar lokasi.

“Pelanggan yang masih menerima air keruh, segera lapor daerah mana, kami buang,” ujarnya.(kir/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Kamis, 10 September 2026
32o
Kurs