Selasa, 10 Februari 2026

Dosen Disabilitas Unesa Sandang Gelar Profesor setelah Teliti Pangan Lokal untuk Cegah Diabetes

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Prima Retno Wikandari Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) seusai dikukuhkan menjadi guru besar di Unesa, Surabaya, pada Selasa (10/2/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Prima Retno Wikandari Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil menyandang profesor setelah menuntaskan penelitian tentang pengembangan panjang lokal untuk mencegah diabetes.

Prima yang merupakan guru besar disabilitas pertama di Unesa mengatakan bahwa pangan lokal Indonesia menyimpan potensi besar sebagai terapi alami untuk mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes hingga jantung koroner.

Pengobatan penyakit degeneratif selama ini banyak bergantung pada obat-obatan kimia yang berisiko menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, ia meneliti pemanfaatan bahan pangan tradisional serta mikroba lokal sebagai alternatif pencegahan yang lebih aman.

“Indonesia ini kaya sekali pangan lokal yang sebenarnya berpotensi untuk terapi, bahkan pencegahan penyakit degeneratif. Hanya saja belum banyak dilirik dan dikembangkan secara serius,” katanya di Unesa, Surabaya, Selasa (10/2/2026).

Salah satu penelitian pentingnya adalah lactobacillus plantarum, bakteri probiotik yang diisolasi dari pangan lokal. Mikroba ini kemudian diaplikasikan ke dalam berbagai produk makanan dan minuman fermentasi. Hingga kini, Prima telah mengembangkan beberapa produk probiotik, termasuk kopi probiotik yang telah dipatenkan.

Selain itu, penelitiannya juga menghasilkan paten terkait proses fermentasi yang mampu meningkatkan aktivitas beta-glukosidase, enzim yang berperan memecah senyawa fenol-glukosida dalam bahan pangan. Proses itu terbukti meningkatkan kadar antioksidan secara signifikan.

“Antioksidan ini penting untuk melawan radikal bebas yang berasal dari polusi udara maupun makanan sehari-hari, yang hampir tidak bisa kita hindari,” jelasnya.

Tak hanya probiotik, Prima juga mengembangkan pangan simbiotik, yakni kombinasi probiotik dan prebiotik. Prebiotik tersebut banyak ditemukan pada umbi-umbian lokal seperti gembili, uwi, dan talas, yang selama ini hanya dikonsumsi secara sederhana.

Ia membeberkan bahwa umbi-umbian tersebut mengandung komponen prebiotik yang jika dikombinasikan dengan Lactobacillus plantarum dapat menghasilkan short chain fatty acid. Senyawa itu, bersama antioksidan, menjadi kunci penting dalam pencegahan diabetes.

Dalam penelitian in vivo yang telah dilakukan, Prima menemukan hasil signifikan dari bawang putih lanang yang difermentasi. Uji coba pada tikus diabetes menunjukkan ekstrak bawang putih fermentasi mampu menurunkan kadar glukosa darah hingga mendekati normal.

Tak hanya itu, terapi tersebut juga terbukti dapat memperbaiki sel beta pankreas, sel yang berperan memproduksi insulin dan umumnya mengalami kerusakan pada penderita diabetes tipe 2.

“Nah, ini yang mungkin menjadi kekuatan gitu ya. Karena obat-obatan lain kalau yang saya pelajari itu dia tidak mampu memperbaiki sel beta pankreas. Nah, dugaan saya itu dari aktivitas antioksidannya, itu akan menurunkan radikal bebas yang akan merusak sel-sel semua sel yang ada termasuk sel pankreas yang untuk bisa mengeluarkan insulin. Nah, otomatis itu terperbaiki,” jelasnya.

Selain bawang putih lanang, potensi antidiabetes juga mulai ditemukan pada umbi gembili, meski masih dalam tahap penelitian awal.

Prima meyakini masih banyak pangan lokal Indonesia yang dapat dieksplorasi untuk mendukung pencegahan penyakit degeneratif secara alami dan berkelanjutan. (ris/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 10 Februari 2026
24o
Kurs