Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026).
Muhammad Dika Nurzaman Pengamat Gunung Api Anak Krakatau mengatakan, aktivitas erupsi terindikasi berupa pancaran lava atau lava fountain yang mulai terjadi pada pukul 23.07 WIB dan masih berlanjut.
“Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga. Sejak tadi malam terjadi satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi yang tercatat mencapai 21.600 detik,” kata Dika di Serang, Sabtu.
Secara akumulatif, Gunung Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak penetapan status Siaga pada 2 Juli 2026.
Dika menjelaskan, aktivitas erupsi tersebut bersumber dari kantong magma Gunung Anak Krakatau. Karena itu, aktivitas tersebut tidak memicu peningkatan aktivitas pada gunung api lainnya di Indonesia.
Tingginya intensitas erupsi juga menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung.
“Suara dentuman yang terdengar itu merupakan suara dari hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat ke udara, bukan dentuman akibat gempa bumi atau gerakan tanah,” ujarnya dilansir dari Antara.
Sementara itu, pemantauan visual terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini belum dapat dilakukan secara optimal. Pantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam adanya semburan lava.
Namun, sejumlah peralatan pemantauan di sekitar kawah diduga mengalami kerusakan akibat terpapar material erupsi.
“Secara fisik sampai siang ini belum bisa kita pantau karena ada beberapa alat pemantauan, termasuk CCTV, yang kemungkinan mengalami kerusakan akibat erupsi,” ungkap Dika.
Meski intensitas erupsi meningkat, status Gunung Anak Krakatau tidak mengalami perubahan. Gunung tersebut tetap berada pada Level III atau Siaga.
Dika meminta masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, tidak panik. Menurutnya, potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini sangat kecil karena tubuh gunung masih relatif kecil.
“Untuk potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer,” tegasnya. (ant/saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

