Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol untuk mendukung target mandatori pencampuran 20 persen bioetanol ke dalam bensin (E20) pada 2028.
Eniya Listiani Dewi Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM mengatakan, keterlibatan swasta sangat dibutuhkan untuk mempercepat penambahan kapasitas produksi bioetanol di dalam negeri.
“Jadi swasta itu boleh dan sangat kita dorong untuk dia bisa menghasilkan pabrik-pabrik bioetanol itu,” kata Eniya di Jakarta, Senin (20/7/2026) yang dikutip Antara.
Dukungan terhadap pembangunan pabrik baru juga akan diperkuat melalui revisi Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati.
Revisi aturan tersebut akan menyesuaikan kapasitas pencampuran bioetanol dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati.
“Hari ini juga saya perintahkan nanti kita komunikasi dengan Kemenko Bidang Perekonomian karena prakarsa revisi Perpres ada di sana. Jadi kita sesuaikan dengan arahan Pak Presiden untuk menambah itu,” ujarnya.
Eniya memperkirakan pembangunan fisik satu pabrik etanol dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Namun, percepatan pembangunan harus diikuti kesiapan bahan baku lokal agar pabrik dapat beroperasi secara berkelanjutan.
“Nah, tinggal bahan bakunya. Kalau bangun pabrik itu 1,5 tahun bisa, tetapi bahan bakunya juga harus dipersiapkan dengan matang,” katanya.
Sebelumnya, Prabowo Subianto Presiden menargetkan pembangunan sedikitnya 30 pabrik etanol dan dapat ditambah hingga 50 pabrik untuk mendukung pengembangan bahan bakar minyak dengan campuran etanol.
Menurut Prabowo, Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan teknis untuk mencampurkan etanol hingga 20 persen ke dalam bensin. Namun, kapasitas produksi masih terbatas karena baru ditopang satu pabrik.
“Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” kata Prabowo, Jumat (17/7/2026).
Prabowo mencontohkan India yang telah menerapkan E20 dan Brasil yang mampu menggunakan campuran etanol hingga E100. Pengalaman kedua negara tersebut dinilai menunjukkan bahwa Indonesia juga dapat mencapai target E20. (ant/bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

