Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya dan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya untuk mendorong kesiapsiagaan bencana sejak usia dini lewat program Kidama Project.
Retno Hastijanti Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya sekaligus Ketua Kidama Project mengatakan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya bertumpu pada teknologi dan infrastruktur, melainkan juga pada pendidikan yang berkelanjutan.
“Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan di masyarakat. Melalui langkah ini, kami ingin menanamkan kesadaran risiko bencana sekaligus membentuk karakter tangguh, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan bersama sejak usia dini,” katanya pada Minggu (21/6/2026).
Langkah menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat itu, dilakukan lewat Kidama Project, program edukasi kesiapsiagaan bencana bagi anak usia dini.
Inisiatif itu, kata dia, merupakan tindak lanjut dari jejaring internasional yang dibangun melalui Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Untag Surabaya sebagai penerima Hibah Japan Foundation Tahun 2025.
Hasil kolaborasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi model pembelajaran yang disesuaikan dengan konteks Indonesia, khususnya dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.
Ia menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran dalam program tersebut dirancang agar anak dapat memahami konsep kebencanaan secara sederhana namun bermakna.
“Kami mengadaptasi praktik terbaik dari Jepang dan menyesuaikannya dengan karakter anak-anak di Indonesia. Pembelajaran dibuat berbasis pengalaman melalui simulasi dan aktivitas langsung, sehingga anak tidak hanya mengetahui prosedur keselamatan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta diperkenalkan pada berbagai potensi bencana yang umum terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, cuaca ekstrem, dan kebakaran. Sementara simulasi lapangan dan praktik dipandu oleh BPBD Kota Surabaya.
“Salah satu materi utama adalah penerapan prosedur Drop, Cover, and Hold On sebagai standar keselamatan saat terjadi gempa bumi,” ucapnya.
Program tersebut, lanjut dia, juga memiliki penerapan metode Montessori yang memungkinkan anak belajar melalui pengalaman konkret. Media pembelajaran dirancang menyerupai situasi nyata agar peserta mampu memahami hubungan antara risiko, tindakan, dan konsekuensi secara lebih mudah, sekaligus membangun kebiasaan disiplin dalam mengikuti prosedur keselamatan.
Aziz Badiansyah Direktur Pendidikan SAIM Surabaya mengatakan bahwa program tersebut memberikan pengalaman belajar bermakna bagi peserta didik.
“Kami melihat program ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk keberanian dan kepedulian siswa,” ucapnya.
Pihaknya berharap, upaya menciptakan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan kebencanaan di masyarakat itu, bisa memperluas budaya kesiapsiagaan secara berkelanjutan.
“Harapannya, apa yang mereka pelajari dapat dibagikan kembali kepada keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya menjadi lebih luas,” pungkasnya. (ris/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

