Minggu, 9 Agustus 2026

Pasar Kembang Disiapkan Jadi Destinasi Snackpacking di Kota Surabaya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Kiri ke kanan: Irna Pawanti Kasatpol PP Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, dan Agus Priyo Akhirono Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Surya di Kota Surabaya saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (10/7/2026). Foto: Billy suarasurabaya.net

Fenomena snackpacking yang tengah digandrungi anak muda atau generasi Z (Gen Z) kini mulai dilirik sebagai peluang pengembangan pasar tradisional di Surabaya.

Snackpacking sendiri merupakan tren melancong dengan aktivitas utamanya berburu jajanan lokal, terutama di pasar tradisional. Konsep ini jadi populer karena menawarkan pengalaman kuliner dan budaya yang biayanya relatif terjangkau. Selain itu, tentu menarik untuk dijadikan konten di media sosial.

Di Jawa Timur sendiri, tren itu berkembang di Malang, dengan Pasar Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo menjadi tujuan populer. Untuk menanggapi tren ini, Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya pun menyiapkan sejumlah pasar berkonsep kuliner dan wisata, salah satunya yakni Pasar Kembang.

Agus Priyo Akhirono Direktur Utama PD Pasar Surya Kota Surabaya mengatakan, saat ini pemerintah kota (Pemkot) sedang membangun sisi selatan Pasar Kembang untuk sektor kuliner tersebut.

“Kalau untuk snackpacking sendiri, ya kita fokuskan sementara ini di Pasar Kembang dan ini sedang dibangun oleh pemerintah Kota Surabaya yang sisi selatan, sehingga nanti kalau misalkan sudah jadi dan bisa beroperasi, ke depannya dimanfaatkan dan dipergunakan untuk snackpacking seperti di Malang itu. Untuk food and beverage gitu loh di lantai 2 itu,” kata Agus, saat on air di Radio Suara Surabaya, Minggu (9/8/2026).

Lantai dua Pasar Kembang nantinya tetap digunakan untuk aktivitas kulakan jajanan pada pagi hari. Sedangkan sisi selatan direncanakan menjadi kawasan kuliner yang dapat mendukung aktivitas snackpacking.

Pengembangan Pasar Tunjungan dan Pasar Lainnya

Selain Pasar Kembang, Pasar Tunjungan juga jadi salah satu lokasi yang akan dikembangkan lagi. Namun, kata Agus, pengembangannya butuh penyesuaian bangunan, karena pasar itu sejak awal sebetulnya dirancang untuk fungsi perkantoran.

“Kalau di Pasar Tunjungan memang perlu kita kembangkan lagi. Karena dulunya, awalnya Pasar Tunjungan itu didesain untuk perkantoran. Sehingga lambat laun bergerak menjadi kulineran. Jadi ada beberapa konstruksi pasar yang harus dirubah memang,” kata Agus.

Menurutnya, pengembangan kawasan kuliner membutuhkan sejumlah perubahan konstruksi, antara lain penyediaan dapur serta fasilitas untuk mencuci dan mengolah makanan.

“Sedangkan kalau kita ngomongin restoran, depot, atau kulineran itu kan ada dapur dan ada semacam tempat untuk bersih-bersih dan memasaknya. Kalau kantor kan enggak perlu jadi ada desain-desain yang memang harus direnovasi sih kalau di pasar Tunjungan,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, Agus juga menyatakan pihaknya membuka peluang investasi untuk mendukung pengembangan Pasar Tunjungan. “Monggo, ayo kita hitung-hitungan mengembangkan Kota Surabaya melalui Pasar Tunjungan,” ujarnya.

Adapun sejumlah pasar tradisional Surabaya sebenarnya sudah jadi tujuan wisatawan mancanegara. Agus mencotohkan Pasar Pabean dan Pasar Kayoon kerap didatangi wisatawan dari kapal pesiar yang singgah di Surabaya.

Wisatawan yang datang ke Pasar Pabean disebut tertarik dengan suasana pasar dan bangunan lamanya. Karenanaya, PD Pasar dengan bantuan Pemkot Surabaya hingga kini masih melakukan perbaikan sarana dan prasarana tanpa menghilangkan karakter khas kawasan tersebut.

“Memang kalau diakui perlu terus dikembangkan, terus diperbaiki lagi sarana dan prasarananya. Namun teman-teman wisatawan itu juga happy melihat ada titik-titik tertentu di Pasar Pabean yang bangunan lamanya gitu. Mereka merasa masih ada ya di Surabaya seperti itu,” jelas Agus.

Sedangkan Pasar Kayoon lebih banyak menarik wisatawan karena produk kerajinan, bunga, hingga aktivitas merangkai bunga menjadi buket.

Agus juga menyambut usulan agar pengembangan pasar di Surabaya dikolaborasikan dengan sektor pariwisata dan komunitas, termasuk melalui konsep Surabaya Shopping Culinary Track (SSCT).

Konsep itu dinilai dapat dikembangkan dengan menghadirkan pemandu wisata yang tidak hanya mengajak pengunjung berbelanja atau berburu kuliner, tetapi juga mengenalkan sejarah dan cerita di balik masing-masing pasar. “Saya ini perlu juga seperti itu karena itu pengembangan-pengembangan pasar yang sangat-sangat baik,” kata Agus.

Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas untuk menjadikan pasar sebagai destinasi yang memiliki pengalaman lebih lengkap, mulai sejarah, kuliner, hingga aktivitas belanja. “perlu juga seperti itu karena itu pengembangan pengembangan pasar yang sangat-sangat baik. Terima kasih itu idenya,” pungkasnya. (bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Minggu, 9 Agustus 2026
32o
Kurs