Kamis, 10 September 2026

Gelombang hingga 4 Meter Jadi Tantangan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak KM Arupadatu 1

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Polri mengerahkan kapal patroli KP Sanjaya-7017 untuk memperkuat operasi pencarian. Kapal tersebut bergerak bersama KN SAR Tetuka milik Basarnas menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Kamis (10/9/2026) pagi. Foto: istimewa

Operasi pencarian delapan orang yang masih hilang setelah kapal cepat KM Arupadatu 1 hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten, memasuki hari ketiga.

Tim SAR gabungan memperluas penyisiran dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor, di tengah kondisi cuaca dan gelombang laut yang cukup menantang.

Polri kembali mengerahkan kapal patroli KP Sanjaya-7017 untuk memperkuat operasi pencarian. Kapal tersebut bergerak bersama KN SAR Tetuka milik Basarnas menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Kamis (10/9/2026) pagi.

Sebanyak 59 personel Polri dilibatkan dalam operasi tersebut. Kekuatan Polri di lapangan dipimpin langsung Kombes Pol Eko Hartanto Dirpolairud Polda Banten yang turut berada di tengah laut untuk memantau proses pencarian.

Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko Karopenmas Divhumas Polri mengatakan, pencarian terus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang dapat memengaruhi pergerakan unsur SAR.

“Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan. Setiap unsur bekerja sesuai kemampuan masing-masing dan saling memperkuat dalam satu operasi SAR gabungan,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Pada hari ketiga, Basarnas Banten membagi wilayah pencarian menjadi enam sektor dengan total luas sekitar 2.483 nautical mile square (NM²).

KP Sanjaya-7017 ditugaskan menyisir sektor B yang terbagi menjadi delapan sub-sektor, mulai B1 hingga B8.

Sementara itu, KN SAR Tetuka diperkuat tiga personel Ditpolairud Polda Banten dan menjalankan pencarian di sektor C yang juga terbagi menjadi delapan sub-sektor, yakni C1 hingga C8.

Pembagian tersebut menjadi bagian dari strategi pencarian agar seluruh wilayah yang menjadi prioritas dapat disisir secara terarah dan meminimalkan kemungkinan adanya area yang terlewat.

KP Sanjaya-7017 sendiri membawa 36 personel, terdiri dari 27 awak kapal, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dua personel Basarnas serta dua awak media.

Sebelum bergerak, seluruh personel terlebih dahulu mengikuti briefing di atas kapal.
Sekitar pukul 08.00 WIB, KP Sanjaya-7017 bersama KN SAR Tetuka bergerak menuju wilayah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau untuk melanjutkan operasi.

Dalam penyisiran, tim SAR tidak hanya mencari keberadaan korban. Petugas juga mengamati berbagai kemungkinan petunjuk yang dapat membantu mengungkap posisi kapal, mulai dari benda yang diduga bagian kapal, perlengkapan keselamatan hingga tanda-tanda lain di permukaan laut.

Namun, operasi pencarian menghadapi kondisi alam yang tidak mudah. Cuaca di wilayah pencarian dilaporkan berawan tebal hingga berkabut. Angin mencapai sekitar 15 knot, sedangkan tinggi gelombang di sejumlah wilayah operasi berada pada kisaran 2,5 hingga 4 meter.

Kondisi tersebut membuat keselamatan personel menjadi salah satu faktor utama yang terus diperhitungkan selama pencarian, terlebih operasi berlangsung di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

“Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, terukur dan terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan,” tegas Trunoyudo.

Secara keseluruhan, lebih dari 280 personel gabungan diterjunkan dalam operasi hari ketiga. Selain Polri dan Basarnas, pencarian melibatkan TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media serta keluarga korban.

Sejumlah sarana juga dioptimalkan, antara lain kapal SAR, kapal patroli, rigid inflatable boat (RIB), dukungan udara, drone thermal, sarana medis dan komunikasi serta kendaraan pendukung di darat.

Polri menegaskan operasi SAR menjadi prioritas utama. Di saat yang sama, penyelidikan terkait hilangnya KM Arupadatu 1 juga berjalan paralel.

Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten pada Rabu malam telah melakukan pendalaman dengan meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik kapal, pekerja galangan serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan kapal.

Meski penyelidikan berjalan, fokus utama aparat tetap diarahkan pada pencarian delapan orang yang hingga kini belum ditemukan.

Polri juga meminta masyarakat dan nelayan yang memiliki informasi terkait keberadaan KM Arupadatu 1 maupun para korban untuk segera melapor kepada petugas SAR atau aparat berwenang.

“Kami mengajak masyarakat untuk membantu melalui koordinasi dengan petugas. Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” pungkas Trunoyudo.(faz/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Kamis, 10 September 2026
28o
Kurs