Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang pada Selasa (28/7/2026) pukul 16.27 waktu setempat.
Bencana tersebut memicu kerusakan di berbagai wilayah, termasuk ledakan yang merobohkan sebagian bangunan Aeon Mall Kumamoto hingga menyebabkan banyak orang diduga terjebak di dalamnya.
Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang melaporkan ledakan terjadi setelah pusat perbelanjaan di kawasan Kashima itu sempat dievakuasi menyusul gempa.
Namun, otoritas masih menduga terdapat sejumlah orang yang berada di dalam gedung saat lantai dua bangunan ambruk.
Rekaman di lokasi menunjukkan bagian langit-langit dan dinding pusat perbelanjaan runtuh hingga rangka baja bangunan terlihat dari luar. Material bangunan juga berserakan di sekitar kompleks mal.
Seorang pria berusia 44 tahun yang mengelola salon di sekitar lokasi mengaku mendengar suara ledakan keras sesaat setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
“Saya mendengar suara keras seperti kendaraan besar menabrak sesuatu. Setelah itu saya melihat kepulan asap putih,” ujarnya dilansir dari Kyodo.
Pasukan Bela Diri Jepang atau Japan Self-Defense Forces telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan pencarian korban di lokasi kejadian.
Selain menyebabkan kerusakan pada pusat perbelanjaan, gempa juga mengakibatkan berbagai gangguan di wilayah Kumamoto.
Sebuah kereta barang milik Japan Freight Railway dilaporkan anjlok dan terguling di Stasiun Yatsushiro, meski masinis selamat tanpa mengalami cedera.
Di Kota Kumamoto, petugas pemadam kebakaran menerima banyak laporan mengenai warga yang terjebak di dalam rumah akibat bangunan rusak. Salah satu rumah sakit setempat juga telah menangani sekitar 50 korban luka.
Gempa tersebut turut merusak sejumlah bagian Kastel Kumamoto, salah satu situs bersejarah paling terkenal di Jepang, setelah beberapa dinding batu penyangga dilaporkan runtuh.
Sekitar 48 ribu rumah tangga di Prefektur Kumamoto juga mengalami pemadaman listrik. Meski demikian, Kyushu Electric Power memastikan tidak ditemukan gangguan pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai di Prefektur Kagoshima maupun PLTN Genkai di Prefektur Saga.
Badan Meteorologi Jepang sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah Laut Ariake dan Laut Yatsushiro. Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada ancaman gelombang besar.
Gempa berkedalaman sekitar 16 kilometer itu mencapai intensitas maksimum skala 7 versi Japan Meteorological Agency (JMA) di sejumlah wilayah Kumamoto. Pada tingkat tersebut, seseorang hampir tidak dapat berdiri atau berjalan tanpa merangkak karena guncangan yang sangat kuat.
Getaran juga dirasakan hingga Prefektur Kagoshima, Fukuoka, dan Saga, disusul beberapa gempa susulan yang berkekuatan signifikan.
Sanae Takaichi Perdana Menteri Jepang menegaskan, pemerintah akan memprioritaskan operasi penyelamatan.
“Kami akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk melaksanakan respons darurat bencana dengan menempatkan operasi penyelamatan dan penyelamatan jiwa sebagai prioritas utama yang dipimpin kepolisian serta petugas pemadam kebakaran,” katanya.
JMA juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.
Selain itu, warga diminta mengantisipasi risiko serangan panas karena suhu udara di Kumamoto diperkirakan mencapai 35 derajat Celsius atau lebih.
Dampak gempa turut mengganggu transportasi. Landasan pacu Bandara Aso Kumamoto ditutup sementara untuk pemeriksaan keselamatan, sementara seluruh layanan kereta yang dioperasikan JR Kyushu, termasuk kereta cepat Shinkansen dan jalur lokal, dihentikan sementara.
Lai Ching-te Presiden Taiwan juga menyampaikan simpati dan menawarkan bantuan kepada Jepang melalui media sosial.
“Taiwan dan Jepang adalah sahabat sejati yang selalu bersama saat menghadapi kesulitan. Kami terus memantau perkembangan situasi dan siap memberikan bantuan kapan pun dibutuhkan,” tulisnya.
Prefektur Kumamoto sebelumnya pernah dilanda rangkaian gempa besar berkekuatan magnitudo 6,5 dan 7,3 pada 2016 yang menewaskan sekitar 270 orang. (saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

