Selasa, 22 September 2026

Guru Besar Sistem Perkapalan ITS Usulkan Sistem Peringkat Keselamatan ala Qualship 21

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Surabaya memberangkatkan KN SAR 249 Permadi dan Helikopter HR-3601 untuk pencarian Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak saat dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/2026). Foto: Basarnas

Prof. Dr.Eng. Trika Pitana, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Selasa (22/9/2026) mengusulkan solusi kebijakan untuk mendorong budaya keselamatan di industri pelayaran nasional.

Usulan ini disampaikan terkait peristiwa tenggelamnya KM Virgo Transport 8 dalam pelayaran Surabaya–Banjarmasin pada Minggu (13/9/2026). Kapal ini mengangkut 243 orang, terdiri atas 213 penumpang dan 30 awak, itu dilaporkan mengalami kemiringan usai dihantam gelombang tinggi di perairan Masalembo, Laut Jawa, sebelum akhirnya terbalik dan tenggelam.

Ia mencontohkan program Amerika Serikat bernama Qualship 21, di mana setiap kapal yang masuk ke perairan negara tersebut akan diinspeksi secara ketat. Perusahaan pelayaran yang terbukti 100 persen patuh terhadap regulasi akan mendapatkan keringanan berupa frekuensi inspeksi yang lebih jarang di kemudian hari.

Menurutnya, pemerintah Indonesia semestinya dapat menerapkan mekanisme serupa dengan membuat sistem peringkat bagi perusahaan pelayaran nasional berdasarkan rekam jejak keselamatannya.

“Kenapa tidak dibuat semacam ranking untuk perusahaan pelayaran? Yang safety-nya jadi concern dan patuh terhadap aturan itu mestinya mendapat reward yang sesuai. Jangan disamakan antara perusahaan pelayaran yang menjadikan safety sebagai prioritas dengan yang tidak,” paparnya dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya.

Ia menilai, informasi semacam ini semestinya juga terbuka bagi publik agar masyarakat dapat mengetahui rekam jejak keselamatan armada milik masing-masing perusahaan pelayaran sebelum memilih moda transportasi laut.

Trika mengingatkan bahwa kasus KM Virgo Transport 8 maupun tragedi Mutiara Sentosa yang sempat viral sebelumnya sesungguhnya hanya menjadi pemicu (trigger) yang membuka kembali persoalan keselamatan pelayaran yang sudah lama berlangsung di Indonesia.

“Kasus KM Virgo Transport 8 dan Mutiara Sentosa itu sebenarnya hanya trigger. Saya punya data dari 2002 sampai 2023, untuk kapal motor penumpang saja itu ada sekitar 104 kecelakaan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, jika rentang data tersebut ditambah dengan insiden-insiden pada 2024, 2025, hingga 2026, jumlah kecelakaan kapal penumpang di perairan Indonesia diperkirakan akan semakin bertambah.

Trika berharap, temuan-temuan ini dapat mendorong evaluasi menyeluruh, tidak hanya pada aspek teknis kapal, tetapi juga pada sistem pengawasan dan tata kelola keselamatan pelayaran nasional secara berkelanjutan.(iss/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Selasa, 22 September 2026
32o
Kurs