Kamis, 20 Agustus 2026

Jelang Muktamar ke-35 NU, 21 Masyayikh Diabadikan dalam Buku

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi buku 21 masyayikh NU Jombang yang diterbitkan menjelang Muktamar ke-35 NU. Foto: Panitia Muktamar ke-35 NU

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) PCNU Kabupaten Jombang menerbitkan buku 21 Masyayikh NU Jombang: Article Anthology.

Buku tersebut merekam perjalanan, pemikiran, serta pengabdian 21 ulama yang dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan tradisi keilmuan, pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial NU di Jombang.

Syafii Ketua LTNNU PCNU Kabupaten Jombang mengatakan, penerbitan buku tersebut bukan sekadar upaya mendokumentasikan biografi para tokoh agama, tetapi menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah sekaligus meneruskan keteladanan para ulama yang membentuk fondasi kultural dan spiritual NU.

“Jombang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu basis pesantren dan perkembangan NU. Dari pesantren, lahir para ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengembangkan pendidikan, dakwah, tradisi keilmuan, serta kehidupan sosial dan kebangsaan,” katanya, pada Selasa (18/8/2026).

Syafii menjelaskan, buku tersebut juga mengajak pembaca mengenal lebih dekat para masyayikh yang selama ini lebih dikenal melalui nama, kompleks makam, maupun cerita yang diwariskan secara lisan.

Sejumlah tokoh yang diulas antara lain KH. Adlan Aly, ulama ahli Al-Qur’an, mursyid tarekat, sekaligus pendiri PP Putri Walisongo Cukir yang memelopori pendirian Madrasah Mu’allimat pada 1951.

Ada pula KH. Musta’in Romly, pendiri Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) dan mursyid TQN yang dikenal dengan gagasan “Berotak London, Berhati Masjidil Haram”.

Sementara KH. As’ad Umar ditampilkan melalui kiprahnya memodernisasi Pesantren Darul ‘Ulum dengan mengembangkan sekolah unggulan, perguruan tinggi, hingga fasilitas kesehatan.

Buku tersebut juga mengulas KH. Abdus Salam sebagai salah satu perintis Pesantren Tambakberas yang meletakkan dasar tradisi keilmuan dan dakwah di Jombang.

Dari sisi sejarah awal NU, terdapat profil KH. Abdul Hamid Chasbullah, A’wan HBNO 1926 sekaligus utusan Muktamar NU kedua pada 1927.

Sementara keterkaitan pesantren dengan perjuangan kebangsaan tergambar melalui sosok KH. Muhammad Wahib Wahab, putra KH. Wahab Hasbullah yang pernah menjabat Menteri Agama RI, Komandan PETA, dan Panglima Hizbullah.

Tokoh lain yang dibahas adalah KH. Abdul Fattah Hasyim, pendiri Madrasah Muallimin-Muallimat Bahrul Ulum, serta KH. Ma’shum Ali yang dikenal melalui kitab Amtsilah Tashrifiyah yang menjadi salah satu rujukan ilmu sharaf di pesantren-pesantren Nusantara.

Antologi tersebut juga mencatat kiprah KH. Dahlan Cholil dalam menjaga sanad Al-Qur’an sekaligus perjuangannya memimpin markas Laskar Hizbullah pada masa perang kemerdekaan.

Ada pula KH. Abdul Djalil Abdurrahman yang dikenal sebagai pendidik inovatif melalui metode jadawil dan karya kitab lintas disiplin keilmuan Islam.

Sosok lain yang diangkat yakni KH. M. Zubaidi Muslich, pendiri Pesantren Mambaul Hikam Jatirejo yang memadukan kajian turots dengan gerakan konservasi lingkungan, serta KH. Makki Ma’shum yang dikenal melalui pengabdiannya kepada KH. Hasyim Asy’ari dan upayanya menjaga kesinambungan sanad tarekat.

Buku tersebut turut menghadirkan KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai representasi ulama, teknokrat, dan penulis yang melakukan transformasi Pesantren Tebuireng dengan tetap mempertahankan tradisi salaf.

Kisah ulama yang berjuang dari akar rumput juga dihadirkan melalui sosok Kyai Abu Sujak, KH. Umar Faruq, KH. Abdul Nashir Fattah, KH. Moch. Djamaluddin Ahmad, KH. Abdul Mujib Adnan, Dr. KH. Isrofil Amar, M.Ag., KH. Ahmad Baidlowi Yasin, hingga KH. Abdurrahman bin Bahri.

Kehadiran buku tersebut, menurutnya penting menjelang Muktamar ke-35 NU karena sejarah perkembangan organisasi tersebut tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar di tingkat nasional, tetapi juga oleh kiprah para ulama di tingkat lokal.

Ia mengatakan, melalui rekam jejak 21 masyayikh tersebut, pembaca bisa melihat bagaimana nilai keilmuan, pendidikan, dakwah, kebangsaan, hingga pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari perjalanan NU di Jombang.

“Buku 21 Masyayikh NU Jombang mengajak pembaca menengok kembali akar perjuangan NU di tingkat lokal, termasuk kiprah para kiai yang dengan ilmu, pendidikan, dan pengabdian turut membangun tradisi Nahdlatul Ulama,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Kamis, 20 Agustus 2026
27o
Kurs