Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Gunung Semeru terus meluas mencapai 598 hektare lahan pada Senin (31/8/2026).
Gatot Soebroto Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur mengatakan, sampai hari ini titik api terpantau masih membara di wilayah B29 Desa Argosari dan Ranu Kembang, Desa Ranu Pani, Kabupaten Lumajang.
“Saat ini ada dua titik yang terbakar di Wilayah B29 Desa Argosari dan Ranu Kembang, Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro,” ujar Gatot saat dikonfirmasi suarasurabaya.net.
Sedangkan untuk area yang terbakar terkonsentrasi di wilayah Gunung Kepolo, kawasan Jambangan, Hutan Po’o dan jalur pendakian alternatif Ayak-ayak.
Untuk mencegah api agar tidak semakin meluas, tim gabungan berupaya membuat sekat bakar di beberapa titik di wilayah yang terbakar.
“Tim Gabungan melakukan pembuatan sekat bakar di kawasan Ayak-Ayak dan Po’o untuk membatasi penyebaran api agar tidak meluas,” jelasnya.
Selain itu tim gabungan juga melaksanakan pemadaman darat di jalur pendakian Semeru antara Pos 1 dan Pos 2 sebagai upaya pengendalian titik api serta mencegah penyebaran kebakaran ke area sekitarnya.
Sementara itu, Gatot mengungkap kendala yang dihadapi petugas di lapangan adalah lokasi objek yang terbakar berada di area tebing dengan sudut kemiringan yang terjal.
Tidak hanya itu, kondisi angin kencang di kawasan Semeru juga menjadi faktor bara api merambat dengan cepat.
“Lokasi obyek terbakar yang berada pada tebing dengan kemiringan yang sangat terjal dan angin bertiup cukup kencang yang mengakibatkan kebakaran cepat meluas,” jelas Gatot.
Di sisi lain, Balai Besar Taman Nasional Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh aktivitas pendakian di Gunung Semeru mulai 26 Agustus 2026 sampai batas waktu yang belum ditentukan.
“BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang melakukan koordinasi dengan TNBTS dalam rangka percepatan penanganan kebakaran,” tandasnya. (wld/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

