Kamis, 24 September 2026

Ketika Influenza A “Berkolaborasi” dengan Polusi Udara

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Karhutla melanda blok Ranu Kembang di kawasan Gunung Semeru pada Rabu (26/8/2026) sore kemarin. Foto: Istimewa

Akhir-akhir ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi pemberitaan di berbagai media massa. Sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Papua, Maluku, hingga NTB seolah ‘kompak’ membentuk rangkaian cincin api.

Meski dampaknya tidak seheboh di Kalimantan atau Sumatera, kondisi di sejumlah titik Pulau Jawa tidak lebih baik. Kawasan konservasi seperti savana Gunung Bromo dan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen pun tidak luput dari amuk si jago merah.

Sungguh ironi dan memprihatinkan. Di satu sisi, belum terlihat tanda-tanda pemerintah mampu memitigasi dampak ‘rutin’ tahunan tersebut. Di sisi lain, masih banyak warga berlalu-lalang tanpa mengenakan masker di tengah kepungan asap.

Apakah publik belum memahami dampak polusi asap karhutla sebagai kondisi darurat gangguan kesehatan masyarakat?

Kabar meninggalnya tiga orang akibat kabut asap di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, sontak mengagetkan. Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh dinas terkait, dari perspektif medis risiko tersebut sangat mungkin terjadi.

Kabar mengkhawatirkan lainnya datang dari lonjakan kasus influenza secara nasional. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 19 September 2026 patut menjadi tolok ukur kewaspadaan.

Proporsi spesimen positif influenza pada minggu ke-36 meningkat menjadi 51 persen. Padahal, sepekan sebelumnya ‘hanya’ 35 persen. Verifikasi tersebut didasarkan atas 185 analisis spesimen.

Influenza A subtipe H1N1 strain pdm09 mendominasi. Proporsi berikutnya ditempati H3N2 subclade K yang lebih dikenal dengan sebutan “super flu”. Sementara itu, influenza B (Victoria) terdeteksi hanya pada beberapa kasus.

Kini, hampir semua daerah di Indonesia juga melaporkan tren peningkatan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Lantas, adakah relevansi antara karhutla, influenza A, dan ISPA?

Karhutla
Indonesia bukan satu-satunya negara yang kewalahan menghadapi problem musiman tersebut. Di berbagai belahan dunia, mulai Eropa, Asia, Australia, Afrika, hingga Amerika, negara-negara menghadapi krisis karhutla dan polusi udara.

Perubahan iklim dan gelombang panas ekstrem memantik ‘musibah ekologi’.

Karhutla dan perubahan iklim bagaikan dua sisi fenomena interaktif yang membentuk lingkaran setan. Krisis iklim, cuaca ekstrem, dan fenomena El Nino memicu timbulnya karhutla. Sebaliknya, karhutla mengakibatkan efek rumah kaca dan memperparah krisis iklim.

Dampak berantai tersebut memantik perubahan ekologi hingga merugikan eksistensi makhluk hidup. Tidak hanya manusia, flora, dan fauna yang terdampak, tetapi juga siklus evolusi mikroba.

Beragam mikroba, khususnya virus, bisa ‘marah besar’. Mutasi menjadi patogen yang lebih berbahaya merupakan salah satu pilihan adaptif. Virus mutan berpotensi membentuk ‘wajah baru’ yang belum dikenali sistem imun manusia. Risiko bahayanya pun meningkat.

Perubahan iklim dan polusi udara merupakan faktor permisif terjadinya mutasi dan penyebaran virus influenza. Sejatinya, mutasi virus influenza terjadi karena ‘kesalahan’ replikasi gen. Namun, faktor lingkungan mampu menciptakan kondisi ideal untuk mempercepat proses mutasi.

Terkini, kualitas udara di sejumlah daerah terdampak karhutla dikategorikan sangat tidak sehat. Bahkan, indeks kualitas udara di Palangkaraya dan beberapa wilayah Kalimantan lainnya menembus level berbahaya atau kategori hitam.

Kontributor polutif utamanya adalah PM2,5 dan PM10.

Istilah PM (Particulate Matter) merujuk pada campuran partikel padat dan cair yang berada di udara. Bentuknya antara lain debu, kotoran, jelaga, dan asap. Ukurannya sangat kecil, sekitar 2,5 mikron (mikrometer), lebih kecil dari tiga persen ukuran rambut manusia.

Selain PM2,5 dan PM10 yang berukuran 10 mikron, terdapat sejumlah komponen polutif lain yang berbahaya, seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2).

Partikel polutan dapat bertindak bagaikan ‘kendaraan’ (mikrosfer fisik) virus sehingga virus mampu bertahan hidup lebih lama di udara luar. Risiko transmisi antarmanusia pun meningkat.

Penularan ‘dipermudah’ oleh peradangan dan stres oksidatif pada saluran napas manusia yang dipicu polutan. Dampak ikutannya berisiko melemahkan sistem imun.

Kondisi tak menguntungkan tersebut ibarat ‘inkubator’ bagi virus untuk bereplikasi dan meningkatkan peluang bermutasi.

Virus Influenza
Virus influenza terdiri dari tiga ‘marga’ (genus), yaitu influenza A, B, dan C.

Virus influenza A paling ganas jika menginfeksi manusia. Namun, virus ini juga dapat menyerang hewan, khususnya unggas dan babi. Genus B secara eksklusif hanya menyerang manusia. Sementara itu, genus C dapat menginfeksi manusia, anjing, dan babi. Paparan genus C sangat jarang terjadi dan biasanya hanya menimbulkan penyakit ringan pada anak.

Jika menginvasi babi, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus. Potensi bahayanya sangat tinggi jika dua jenis virus menyerang secara bersamaan.

‘Perkawinan’ keduanya berpotensi ‘melahirkan’ virus influenza jenis baru yang berbeda dari kedua ‘induknya’. Perubahannya bisa hanya sebagian, tetapi bisa juga total.

Virus ‘keturunan’ baru inilah yang berpotensi berbahaya dan memantik terjadinya pandemi.

Ada terminologi yang tidak terlalu dipahami awam, tetapi penting diketahui. Virus influenza memiliki banyak struktur. Komponen krusial yang berefek langsung pada manifestasi penyakit dikode H/HA (Hemaglutinin) dan N/NA (Neuramidase).

Hingga kini, setidaknya ada 16 subtipe H dan sembilan subtipe N. Tingkat evolusinya menempati hierarki tertinggi di antara semua mikroba.

Artinya, setiap saat virus mampu bertukar materi genetik di antara subtipe H dan N untuk ‘melahirkan’ virus ‘keturunan’ baru.

Contoh paling fenomenal adalah virus influenza A subtipe H1N1. Virus tersebut bertanggung jawab atas pandemi flu Spanyol tahun 1918. Kala itu, virus memicu kematian 20-100 juta penduduk dunia.

Tahun 2009, terjadi wabah H1N1 lagi. Pemicunya virus ‘turunannya’, yakni strain virus H1N1/pdm09. Sumbernya dari babi. Pdm09 mengartikan pandemi tahun 2009. Peristiwa tersebut dikenal dengan pandemi flu babi.

Angka kematian resmi yang dilaporkan mencapai 284 ribu penduduk dunia. Disinyalir, realitas di lapangan jauh melampaui prediksi tersebut.

‘Super flu’ tergolong dalam genus A. Terminologi lengkapnya adalah influenza A subtipe H3N2 subclade K.

Sementara itu, genus B hanya memiliki dua ‘garis keturunan’, yakni Yamagata dan Victoria.

ISPA
Penyebab ISPA amat beragam. Berbagai macam virus dan bakteri mampu menimbulkan ISPA bagian atas, misalnya batuk pilek ‘biasa’, maupun bagian bawah, contohnya pneumonia.

Karena itu, gejalanya sangat bervariasi, tergantung segmen saluran napas yang terlibat. Gejala dapat berupa hidung tersumbat, bersin, nyeri tenggorokan, demam, hingga sesak napas pada kasus yang parah.

Influenza A juga memiliki gejala serupa, meski demamnya sering melampaui 38 derajat Celsius. Gejala penyerta lainnya dapat berupa kelelahan ekstrem, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, serta batuk kering.

Sama dengan influenza A, karhutla dan polusi udara merupakan faktor pemicu penting timbulnya ISPA.

Berdasarkan data Kemenkes 21 September 2026, sedikitnya tercatat 175 ribu kasus ISPA akibat karhutla.

Dampak Polutan
Kini polusi udara menjadi lawan utama kehidupan manusia. Dampak polutan sering kali tidak dirasakan secara langsung sehingga masyarakat menjadi kurang waspada.

Keterbukaan informasi dan sistem peringatan dini (early warning system) perlu ditingkatkan ketika kualitas udara memburuk.

Dalam jangka pendek, polusi udara memantik penyakit saluran napas. Dalam jangka panjang, polusi dapat memicu risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kanker, terutama kanker paru, alergi, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga kematian prematur.

Polusi udara juga berisiko memicu cacat janin, gangguan pencernaan, penyakit lever, ginjal, dan penyakit kulit.

Karena itu, perlu digaungkan hakikat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, bahwa setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Memutus mata rantai polusi udara membutuhkan pemahaman mendalam dan kerja sama semua pihak. Diperlukan ‘tekat’ dan ‘keberanian’ pemerintah agar sesegera mungkin mengendalikan situasi terhadap bumi yang sedang ‘sakit’.

Pencegahan
Seperti halnya pencegahan Covid-19, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) efektif mencegah paparan influenza.

Khususnya, penggunaan masker sangat dianjurkan. Saat beraktivitas, sebaiknya menghindari kerumunan, terlebih di ruangan tertutup.

Pencegahan spesifik berupa vaksin influenza diindikasikan terutama pada individu imunokompromi, lansia, dan balita. Vaksin influenza trivalen, yang mengandung komponen dari dua galur subtipe A dan satu galur subtipe B, efektif mencegah penularan.

Karena potensi evolusinya tinggi, vaksin influenza harus diperbarui setiap tahun.

Penulis:
Ari Baskoro
Pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 24 September 2026
27o
Kurs