Kisah Sawunggaling sang Adipati Surabaya, menjadi salah satu legenda tersohor yang diketahui oleh masyarakat. Bermula dari kisah anak yang tak dianggap hingga menjadi cikal bakal Kota Surabaya.
Mulyadi atau Cak Moel Ketua Paguyuban Lidah Sawunggaling menerangkan bahwa Sawunggaling sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar yang diberikan untuk Joko Berek karena memenangkan sayembara jumparingan atau panahan.
“Legenda Sawunggaling sebetulnya berada di antara mitos dan fakta. Meski cerita yang berkembang di tengah masyarakat berupa legenda, bukti peninggalannya nyata ada, mulai dari makam hingga jejak sejarahnya,” katanya saat onair dalam program Semanggi Suroboyo Radio Suara Surabaya, Jumat (9/10/2026).
Cak Moel menjelaskan, Joko Berek kecil lahir di Kampung Lidah Donowati, yang kini dikenal sebagai Lidah Wetan dan Lidah Kulon.
Joko Berek merupakan anak dari Panji Suringrono atau Jayengrono III Adipati Surabaya dan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Sejak kecil, dia dianggap tidak memiliki ayah karena ditinggal sang ayah bertugas di Kadipaten Surabaya.
“Nah untuk mengobati rasa kesepian sang anak, ibunda Joko Berek meminta bantuan kepada seorang nenek di Rawa Wiyung untuk memberikan seekor anak ayam yang kemudian diberi nama Bagong. Ayam itu setia menemani Joko Berek ke mana pun pergi hingga saat ini dijadikan patung di kawasan Wiyung,” ungkapnya.
Tanda-tanda kehebatan Joko Berek, lanjut Cak Moel, mulai terlihat saat berusia belasan tahun. Saat itu warga di daerah Warugunung mengalami krisis air bersih. Joko Berek kemudian menunjuk sebuah bukit sebagai sumber air dan diberi nama Sumur Bumi.
Saat dewasa, Joko Berek memutuskan pergi ke Kadipaten Surabaya untuk mencari ayahnya.
Perjalanan Joko Berek tidak mulus karena dihalangi oleh saudara tirinya, Sawungrono dan Sawungsari. Pertemuan mereka bahkan sempat diwarnai adu jago yang kini populer dalam cerita ludruk Surabaya.
Setibanya di kadipaten, Joko Berek membuktikan silsilahnya dengan membawa kain cinde pemberian sang ibu.
Meski begitu, sang ayah tidak langsung mengakuinya dan memberikan ujian berat, yaitu merawat 144 ekor kuda kadipaten tanpa boleh ada satu pun yang mati. Joko Berek berhasil melewatinya dengan sempurna.
“Ujian Joko Berek masih berlanjut saat VOC dan Mataram berencana mengganti Adipati Jayengrono. Penggantian itu dilakukan melalui lomba memanah atau Jemparingan. Dari seluruh ksatria yang bertanding, hanya Joko Berek yang berhasil menembak sasaran hingga berhak menyandang gelar Adipati Sawunggaling,” jelasnya.
Meskipun memenangkan sayembara, lanjut Cak Moel, pihak lawan memberikan syarat tambahan yang sangat berat karena tahu Joko Berek adalah keturunan Jayengrono. Ia diperintahkan untuk membabat Alas Nambas Kelingan, sebuah hutan belantara yang terkenal sangat angker dan menjadi cikal bakal wilayah Surabaya.
Sementara itu, saat ini makam Sawunggaling yang berada di Jalan Lidah Wetan Tengah Surabaya merupakan makam yang sudah diberikan label Cagar Budaya.(kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

