Selasa, 3 Februari 2026

Konflik Tak Terhindarkan, Psikolog Tekankan Cara Bertengkar yang Sehat dalam Pernikahan

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Pertengkaran dalam Pernikahan. Foto: Fokus on the Family

Konflik dalam rumah tangga atau kehidupan pernikahan, sesuatu yang pasti terjadi dan tidak bisa dihindari, termasuk jika memicu pertengkaran. Namun, menurut Dr. Ersa Lanang Sanjaya Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra bertengkar harus tetap sehat agar tidak mengarah ke perceraian.

Cara bertengkar sehat menurutnya; pertama, menggunakan pola komunikasi afertif, menyampaikan yang dirasakan namun bersifat konstruktif dan dikomunikasikan dengan baik.

“Akan jadi berbahaya ketika konflik sifatnya destruktif, aku pengin mengalahkan kamu, aku enggak suka (misalnya),” ucapnya saat mengudara di program Wawasan Radio Suara Surabaya, Selasa (3/2/2026).

Jika emosi meningkat dan kemungkinan tidak bisa berbicara logis, atau sulit mengendalikan diri untuk menahan kata kasar, sebaiknya menstabilkan emosi tapi disampaikan ke pasangan. “Kalau aku gitu, aku emosi, enggak stabil nanti bicara lagi,” ungkapnya.

Sementara cara bertengkar yang berbahaya jika komunikasi dilakukan secara agresif, mengalahkan orang lain, melibatkan anak dalam pertengkaran untuk memilih salah satu dari orang tuanya, hingga penerapan silent treatment.

“Mendiamkan dia sampai aku puas tanpa waktu yang jelas, itu masalah enggak akan selesai, nambah,” jelasnya.

Jika harus menceritakan ke orang lain terkait permasalahan, sarannya, harus mencari pihak netral yang tidak memihak salah satu berdasarkan cerita yang cenderung subjektif.

“Ketika kita datang ke orang lain akan menceritakan yang jadi subjektifitas kita, kita benar. Nah karena yang kita ajak bicara punya relasi dengan kita, maka akan jadi pro ke kita, malah akan memerparah. Kalau perlu lebih ya ke konselor, ke profesional,” terangnya.

Terakhir, ia mengingatkan pernikahan memang seindah dongeng Disney, tapi keindahan itu harus diupayakan bersama-sama.

“Ya harus sama-sama mengupayakan terus belajar bertindak bertoleransi dan seterusnya. Pernikahan baik indah itu harus diupayakan,” tandasnya. (lta/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 3 Februari 2026
32o
Kurs