Bagi banyak orang Indonesia, dangdut adalah musik yang begitu dekat dengan keseharian. Namun, bagi seorang mahasiswa Jepang pada 1984, musik tersebut justru menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia lebih jauh.
Mahasiswa itu adalah Takonai Susumu, yang kini menjabat Konsul Jenderal Jepang di Surabaya. Ketertarikannya pada dangdut bermula ketika ia mendengar musik tersebut saat berjalan-jalan di Jakarta.
“Saya mendengar dangdut saat sedang jalan-jalan di Jakarta waktu itu. Musiknya sangat unik. Mirip musik dari India, tapi juga ada perbedaannya. Setahu saya selama ini, musik Indonesia itu ya gamelan dan keroncong. Tapi dangdut ini sangat menarik,” cerita Takonai dalam keterangan resminya, Selasa (8/9/2026).
Rasa penasaran itu kemudian berkembang menjadi penelitian akademik. Takonai menjadikan lirik lagu dangdut sebagai objek skripsi S-1 di Universitas Tokyo.
Ketertarikannya tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, tetapi terus berlanjut hingga jenjang S-3.
Selama bertahun-tahun, Takonai mengumpulkan berbagai rekaman musik dangdut, mulai dari kaset, CD, hingga piringan hitam.
Perjalanannya sebagai peneliti juga mempertemukannya dengan sejumlah tokoh penting dalam sejarah dangdut Indonesia, seperti Elya Khadam, Husein Bawafie, Rhoma Irama, dan Ida Laila. Ia juga bertemu dengan sejumlah pimpinan orkes Melayu.
Menelusuri Dangdut dari Akarnya
Dalam mempelajari dangdut, Takonai tidak hanya melihat musik yang dikenal masyarakat saat ini. Ia menelusuri perjalanan panjang yang membentuk dangdut hingga menjadi salah satu genre musik populer di Indonesia.
Penelusuran itu bahkan membawanya ke periode 1930-an, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
Ia menggali sejarah istilah Melayu dalam Orkes Melayu, masuknya teater Parsi dan Komedi Stamboel beserta musik yang mereka bawakan, hingga pengaruh kesenian Arab dan India di Indonesia.
Peran radio dalam menyebarkan musik kepada masyarakat juga menjadi bagian dari penelitiannya.
Namun, menelusuri sejarah musik dari puluhan tahun lalu bukan perkara mudah. Salah satu kendala terbesar yang ditemuinya adalah keterbatasan arsip dan rekaman, khususnya untuk periode sebelum Indonesia merdeka.
“Rekaman, ya. Tidak banyak arsip dangdut di Indonesia terutama di masa sebelum kemerdekaan. Jadi selain dari koleksi pribadi dan koleksi teman-teman di Jepang yang juga meneliti dangdut, saya pergi ke Perpustakaan Nasional di Jakarta. Biasanya saya mencari artikel majalah lama yang membahas dangdut. Saya rasa sebenarnya ada banyak arsip tentang dangdut, tapi milik pribadi, atau disimpan di Belanda,” ujar Takonai.
Dari Sejarah ke Dangdut Masa Kini
Bagi Takonai, perjalanan dangdut tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Indonesia. Musik tersebut terus berubah mengikuti zaman, sekaligus mencerminkan masyarakat yang menikmatinya.
Ia melihat perbedaan yang cukup besar antara dangdut pada era 1980-an dan 1990-an dengan musik dangdut yang berkembang saat ini. Subgenre dangdut semakin beragam dan berkembang mengikuti selera pendengar.
Di antara musisi dangdut masa kini yang sering didengarkannya adalah Happy Asmara, Denny Caknan, dan Lesti Kejora.
Kecintaannya terhadap dangdut juga tidak berhenti pada penelitian dan koleksi rekaman. Saat berada di Surabaya, Takonai masih mengikuti perkembangan pertunjukan dangdut.
“Baru-baru ini saya juga menonton konser OM Palapa di Surabaya. Tahu infonya dari Instagram,” tutur Takonai sambil tertawa kecil.
Ia pun setuju jika dangdut disebut sebagai salah satu musik yang mampu mempersatukan masyarakat.
Menjadi Dangdut, dari Disertasi hingga Buku
Puluhan tahun ketertarikannya terhadap dangdut kemudian dituangkan dalam karya berjudul Menjadi Dangdut. Karya tersebut merupakan disertasi Takonai dan telah dibukukan dalam bahasa Jepang serta bahasa Indonesia.
Bagi Takonai, penelitian tentang dangdut bukan sekadar kajian mengenai musik. Sejarah perkembangannya bersinggungan dengan berbagai aspek kehidupan Indonesia, mulai dari budaya dan seni hingga sejarah, politik, dan perkembangan media.
Ia berharap karyanya dapat menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin memahami perjalanan dangdut dan konteks sosial yang melatarbelakanginya.
Ke depan, Takonai juga memiliki rencana untuk menyumbangkan koleksi rekaman dangdut yang dimilikinya kepada Indonesia.
Ia ingin koleksi tersebut tidak hanya tersimpan sebagai arsip pribadi, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian dan pelestarian sejarah musik Indonesia.
Di sisi lain, Takonai ingin bekerja sama dengan komunitas pencinta Indonesia di Jepang untuk memperkenalkan dangdut kepada masyarakat Negeri Sakura.
Menurutnya, masyarakat Jepang cukup terbuka terhadap berbagai jenis musik baru. Karena itu, dangdut memiliki peluang untuk kembali diperkenalkan dalam konteks yang berbeda kepada masyarakat Jepang.
Respons pembaca di Jepang terhadap Menjadi Dangdut juga disebut cukup positif. Penelitian tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk memahami sejarah dangdut, tetapi juga berpotensi menjadi referensi dalam kajian musik, budaya, seni, politik, sejarah, hingga perkembangan media. (saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

