Minggu, 21 Juni 2026

PBNU Siapkan Ekosistem untuk Inovasi Kader Muda di Tengah Tantangan AI

Laporan oleh Wilda Aulia Maulida Afni
Bagikan
Ufi Ulfiah, Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga dan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PBNU. Foto: NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Kemaslahatan Keluarga dan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PBNU tengah mematangkan langkah strategis untuk menghimpun ide kreatif dan aksi inovasi kader muda NU melalui forum Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS).

Agenda sosialisasi dan penjaringan gagasan ini digelar di Pondok Pesantren Al Badrul Falah, Ploso, Kediri pada Sabtu (20/6/2026).

Ufi Ulfiah, Sekretaris LAKPESDAM PBNU menjelaskan kegiatan di Pondok Badrul Falah ini merupakan bagian dari rangkaian pra-acara menuju forum puncak NIAS.

Forum ini diproyeksikan sebagai platform inklusif untuk menghubungkan para kader NU yang memiliki inisiatif informatif dan solutif dalam menjawab berbagai tantangan zaman.

“Ini adalah rangkaian dari rencana PBNU untuk menggelar satu forum yang disebut dengan NIAS. Sebelum acara puncak tersebut, kami mengadakan berbagai acara di berbagai tempat, salah satunya di Pondok Badratut Falah ini, untuk mendistribusikan gagasan terselenggaranya NIAS sekaligus menghimpun ide kreatif dan aksi inovasi yang dimiliki atau digagas oleh kader-kader NU,” ujar Ufi Ulfiah.

Ufi Ulfiah menambahkan, target utama dari program ini adalah membangun iklim kolektif yang sehat di internal organisasi.

LAKPESDAM PBNU berkomitmen untuk mengintegrasikan potensi-potensi kreatif dari akar rumput agar menjadi satu kekuatan yang terorganisir.

“Di dalam forum itu, fokus utamanya adalah menciptakan sebuah ekosistem. Kami ingin membuktikan dan menguatkan bahwa kader Nahdliyin sesungguhnya memiliki kapasitas ide kreatif yang luar biasa. Harapannya, PBNU bisa memastikan ekosistem itu benar-benar tercipta dan berkelanjutan,” ujarnya.

Tantangan inovasi ini menjadi sangat relevan di tengah masifnya disrupsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Rudi Hartono, HRD, GA, & Teknis Manager of Suara Surabaya Media, yang turut memberikan pandangan dalam konteks pengembangan SDM menekankan bahwa kemajuan teknologi modern tidak semestinya menjadi ancaman jika disikapi dengan tepat.

Sosialisasi dan penjaringan gagasan forum Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS) di Pondok Pesantren Al Badrul Falah, Ploso, Kediri pada Sabtu (20/6/2026). Foto: NU Online

“Dalam dunia kerja, AI memang banyak mengubah jenis pekerjaan menjadi lebih mudah. Tapi yang perlu dipahami, AI itu hanya sebuah tools. Maka kemampuan dan keterampilan yang paling dibutuhkan untuk memanfaatkan itu adalah bagaimana kita mampu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan dalam tools yang kita pakai. Kekhawatiran itu tidak akan terwujud kalau kita punya kesiapan terhadap relevansi konteks masalah yang kita hadapi,” urai Rudi Hartono.

Lebih lanjut, Rudi Hartono menegaskan kendali penuh atas teknologi tetap berada di tangan manusia. Aspek-aspek fundamental seperti daya analisis, kebijaksanaan (wisdom), serta pemahaman konteks zaman tidak akan bisa digantikan oleh mesin pintar sekalipun.

Oleh karena itu, Rudi Hartono berpesan agar momentum pembangunan ekosistem inovasi seperti yang diinisiasi oleh LAKPESDAM PBNU ini dibarengi dengan penguatan nilai spiritual dan kultural. Hal ini penting agar para kader tidak kehilangan arah di era digital yang serba cepat.

“Maka bagi warga Nahdliyin, agar kita tidak terombang-ambing di dunia yang sangat technology-minded ini, yang paling penting adalah menguatkan di karakter dan kepribadian kita. Sehingga, kita punya landasan yang kuat, kemanfaatan yang kuat, dan konsep rahmatan lil alamin yang harus tetap kita jaga,” tutup Rudi Hartono.(aul/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Minggu, 21 Juni 2026
28o
Kurs