Rabu, 29 April 2026

Pemerintah Pastikan Layanan Psikososial untuk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Arifah Fauzi Menteri PPPA saat mengunjungi korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timu. Foto Humas Kemen PPPA

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) memastikan penanganan korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pemulihan psikologis melalui layanan dukungan psikososial.

Kecelakaan yang melibatkan rangkaian Kereta Api Indonesia, termasuk KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, menyebabkan belasan korban jiwa dan puluhan luka-luka. Pemerintah menegaskan bahwa penanganan darurat dilakukan secara terpadu lintas sektor.

Arifah Fauzi Menteri PPPA menyampaikan bahwa pemulihan psikologis menjadi prioritas penting dalam fase darurat.

“Dalam situasi darurat ini, pemulihan psikologis merupakan bagian yang sangat penting. Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah, UPTD PPA, layanan SAPA 129, serta mitra lainnya agar dukungan psikososial berjalan optimal, mulai dari pendampingan awal, layanan konseling, hingga rujukan lanjutan apabila dibutuhkan,” ujar Arifah dalam keterangan pers, Rabu (29/4/2026).

Dia juga menyampaikan duka cita mendalam atas para korban, khususnya perempuan yang meninggal dunia, serta keluarga yang ditinggalkan.

Menurut Kementerian PPPA, upaya penanganan darurat melibatkan sedikitnya 163 unit ambulans dari berbagai unsur, termasuk Public Safety Center (PSC) 119, rumah sakit daerah, puskesmas di wilayah Bekasi, serta dukungan dari PMI, kepolisian, dan relawan.

Sejumlah fasilitas kesehatan yang terlibat di antaranya puskesmas Karangkitri, Arenjaya, Bekasi Jaya, Duren Jaya, Mustika Jaya, Perumnas 2, Pengasinan, Margajaya, Pondok Gede, dan Pekayon Jaya.

“Kami mengapresiasi respon cepat dari seluruh unsur yang terlibat, termasuk tenaga kesehatan, rumah sakit, puskesmas, relawan, serta aparat terkait yang telah bergerak cepat melakukan evakuasi, triase, dan penanganan medis,” ujar Arifah.

Hingga kini, penyebab kecelakaan masih dalam tahap investigasi oleh pihak berwenang, termasuk unsur perkeretaapian dan kepolisian.

Pemerintah juga menekankan pentingnya pendataan korban secara terpilah berdasarkan jenis kelamin dan usia untuk memastikan intervensi yang lebih tepat sasaran. Selain itu, aspek keamanan, kenyamanan, dan privasi di ruang layanan korban menjadi perhatian utama, terutama bagi perempuan dan anak.

Kemen PPPA bersama pihak terkait, termasuk operator perkeretaapian, akan melakukan evaluasi keselamatan secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa.

Berdasarkan data sementara, kecelakaan tersebut menelan 15 korban jiwa dan menyebabkan 88 orang mengalami luka-luka. (lea/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 29 April 2026
32o
Kurs