Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan mengembalikan lahan dengan izin pemakaian tanah (IPT) menjadi penampungan air untuk mencegah banjir sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana.
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya menyebut, posisi daratan Surabaya yang lebih rendah dari laut harus diantisipasi dengan banyak tempat penampungan air.
“Tapi, seperti kita ketahui, tanah di Surabaya sudah habis,” ungkapnya, Rabu (24/6/2026).
Cara yang memungkinkan, mengembalikan tanah IPT menjadi bozem atau kolam buatan penampung limpasan air hujan atau air dari saluran drainase untuk mengurangi banjir.
“Jadi, kami enggak berpikir hari ini, tapi berpikir berapa tahun ke depan lagi,” tambahnya.
Rencananya, Pemkot akan memanggil pengusaha yang memanfaatkan tanah IPT dibangun dengan tidak menyediakan saluran.
“Jadi, yang namanya pabrik-pabrik itu panggil semuanya minta untuk membuat saluran di depannya seperti yang kami lakukan di Kalirungkut,” ungkapnya lagi.
Diberitakan sebelumnya, dua hari berturut-turut Surabaya banjir usai diguyur hujan deras Senin dan Selasa pekan ini.
Penyebabnya penutupan saluran air karena proyek box culvert tengah berlangsung sehingga, aliran air terhambat saat tiba-tiba hujan.
Selain itu, air laut pasang membuat air yang dipompa keluar justru berbalik masuk ke daratan.
Pemkot menargetkan seluruh proyek drainase dan perbaikan rumah pompa dapat rampung sebelum puncak musim hujan pada November-Desember, agar sistem yang dibangun mampu mengurangi dampak banjir secara signifikan bagi warga Surabaya. (lta/rid)
NOW ON AIR SSFM 100

