Delegasi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Swiss pada Minggu (21/6/2026) untuk memulai perundingan damai, menyusul gencatan senjata 60 hari yang disepakati kedua negara. Namun sejumlah ketegangan masih menghantui jalannya negosiasi.
Reuters melaporkan, delegasi Iran dipimpin kepala negosiator Mohammad Baqer Qalibaf dan turut didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi beserta sejumlah pejabat senior di bidang keamanan, perbankan, dan perminyakan. Sementara dari pihak AS, Wakil Presiden JD Vance memimpin tim yang juga mencakup utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump.
Perundingan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan sementara yang ditengahi Pakistan dan ditandatangani Rabu lalu oleh Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Vance menyatakan optimistis gencatan senjata akan bertahan dan berharap kedua pihak bisa membuat kemajuan terkait isu nuklir Iran serta situasi di Lebanon.
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Tuding AS Ingkar Janji
Di tengah momentum perundingan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu (20/6/2026) menyatakan Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia, telah ditutup. Pernyataan itu dikaitkan dengan apa yang disebut Iran sebagai “kejahatan” Israel di Lebanon yang dinilai melanggar komitmen AS dalam gencatan senjata.
Namun pihak militer AS membantah klaim tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) mencatat 55 kapal dagang tetap melintas di selat itu pada Sabtu, mengangkut lebih dari 17 juta barel minyak untuk pasar global, dan menegaskan AS akan memastikan lalu lintas komersial tetap berjalan.
Trump melalui media sosial menyatakan tidak akan ada pungutan untuk melintas di Selat Hormuz selama atau setelah periode gencatan senjata, namun ia tidak menutup kemungkinan penerapan tarif jika perundingan damai gagal.
Israel Serang Lebanon di Tengah Gencatan Senjata, 20 Orang Tewas
Kesepakatan gencatan senjata di Lebanon juga belum sepenuhnya stabil. Pasukan Israel dan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran dilaporkan masih saling menyerang. Lebanon mencatat 20 orang tewas akibat serangan Israel pada Sabtu, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata resmi berlaku.
Israel mengklaim serangannya merupakan respons atas tembakan lebih dari 50 proyektil dari Hezbollah, sementara kelompok tersebut menyatakan tidak akan membiarkan Israel leluasa bergerak di Lebanon. Israel sendiri menegaskan tidak terikat kesepakatan AS-Iran dan akan tetap mempertahankan posisinya di wilayah Lebanon yang didudukinya.
Sejak 2 Maret, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 4.057 orang telah tewas akibat serangan Israel, termasuk tenaga medis, perempuan, dan anak-anak. Sementara Israel melaporkan sedikitnya 32 tentara dan 4 warga sipil gugur dalam pertempuran melawan Hezbollah.(iss)
NOW ON AIR SSFM 100

