Pesawat kargo Amazon yang dioperasikan maskapai ’21 Air’ keluar landasan saat mendarat di Bandara Internasional Miami, Amerika Serikat, Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Pesawat Boeing 767 itu melaju hingga sekitar 130 mil per jam sebelum menabrak sejumlah kendaraan dan terbakar.
Menurut Jennifer Homendy Ketua National Transportation Safety Board (NTSB), lima orang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Seluruh korban berada di dalam kendaraan yang tertabrak pesawat. Lima orang lainnya terluka, termasuk tiga dalam kondisi kritis.
Melansir CNN, pesawat dalam penerbangan dari San Juan, Puerto Rico, menuju Miami. Saat mendekati landasan pacu 30 (runway 30), pesawat justru berada di atas jalur pendekatan normal sebelum kembali turun menuju posisi pendaratan.
Data pelacakan Flightradar24 menunjukkan pesawat masih berada di udara hingga jauh ke dalam landasan. Roda belakang kiri pesawat bahkan beberapa kali menyentuh landasan sebelum akhirnya pesawat melewati ujung runway.
Kronologi dan Dugaan Penyebab
Sebelum mendarat, pesawat diketahui melintasi badai petir yang sedang berkembang. Arah angin juga berubah secara tiba-tiba saat proses pendaratan. Kondisi tersebut diduga membuat pesawat memperoleh angin dari belakang sehingga lebih sulit mengurangi kecepatan.
David Soucie, analis keselamatan CNN sekaligus mantan inspektur keselamatan Federal Aviation Administration (FAA), mengatakan perubahan arah angin dapat memengaruhi laju pesawat.
“Pada titik itu, Anda justru menambah kecepatan, bukannya menguranginya,” kata Soucie.
Rekaman komunikasi lalu lintas udara menunjukkan pilot tidak melaporkan masalah kepada pengendali lalu lintas udara sebelum mendarat.
Video yang beredar di media sosial juga menunjukkan pesawat mendarat hampir sejajar dengan permukaan landasan, bukan menggunakan teknik “flare” yang lazim dalam pendaratan. Teknik tersebut dilakukan dengan mengangkat hidung pesawat pada saat-saat terakhir agar roda pendaratan belakang menyentuh landasan terlebih dahulu.
Francisco Diaz, kapten Boeing 747 sekaligus presiden Captains Council, organisasi pilot yang berbasis di Miami, menilai rekaman yang tersedia menunjukkan kemungkinan pendekatan pesawat yang tidak stabil.
“Berdasarkan video-video yang telah kami lihat, tampaknya itu merupakan pendekatan yang tidak stabil,” kata Diaz. Ia menambahkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang harus diperiksa NTSB dalam penyelidikan.
Setelah melewati ujung landasan, pesawat melintasi area berumput, menerobos pagar kawat berduri, lalu menghancurkan pembatas beton sebelum menuju jalan empat lajur.
Pesawat kemudian menabrak dua kendaraan, yakni sebuah van Ford tahun 2012 yang membawa tujuh orang dan sebuah SUV Toyota. Pesawat baru berhenti sekitar 1.300 kaki atau sekitar 396 meter setelah permukaan landasan berakhir, dekat area parkir.
Api kemudian muncul di sekitar mesin sebelah kanan pesawat. Lebih dari 60 unit pemadam dan penyelamat serta sekitar 200 petugas dikerahkan untuk menangani kecelakaan tersebut.
Pesawat berusia 32 tahun itu merupakan Boeing 767 yang dioperasikan 21 Air, perusahaan penerbangan kargo yang berkantor pusat di North Carolina dan memiliki pusat operasi di Miami. 21 Air menjadi salah satu operator yang digunakan Amazon Air.
Penyelidikan dan Dampak Kecelakaan
Penyelidikan kini dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan. NTSB akan memeriksa berbagai faktor, termasuk pengoperasian pesawat, pengalaman dan pelatihan awak, pengendalian lalu lintas udara, hubungan kontraktual operator dengan Amazon, pengawasan FAA, hingga kondisi cuaca.

Penyelidik juga telah menemukan kotak hitam pesawat yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi di dalam kokpit dan penerbangan sebelum kecelakaan.
Homendy mengatakan tim NTSB yang terdiri dari 32 orang akan berada di lokasi setidaknya selama sepekan.
“Ketahuilah bahwa kami sangat berkomitmen penuh terhadap tugas dan tanggung jawab kami sebagai badan investigasi untuk menentukan bagaimana dan mengapa kecelakaan ini terjadi, dengan satu tujuan utama: keselamatan,” kata Homendy. “Dan itu untuk mencegah hal tersebut terjadi lagi,” tambahnya.
Kecelakaan tersebut juga berdampak pada operasional Bandara Internasional Miami. Dua dari empat landasan pacu bandara ditutup pada Senin (7/9/2026), sementara ratusan penerbangan mengalami pembatalan dan penundaan.
Penyelidikan juga menyoroti keberadaan sistem keselamatan di ujung landasan. Bandara Internasional Miami tidak memiliki Engineered Material Arresting System (EMAS), sistem yang menggunakan material ringan yang dirancang untuk hancur ketika dilindas roda pesawat sehingga membantu menghentikan pesawat yang keluar dari landasan.
Mary Schiavo, analis transportasi CNN dan mantan inspektur jenderal Departemen Transportasi AS, menilai keberadaan sistem tersebut penting bagi bandara yang dikelilingi kawasan perkotaan.
“Saat pesawat melampaui ujung landasan pacu, roda-rodanya menghantam permukaan di sana. Pesawat pun berhenti,” kata Schiavo.
“Untuk bandara yang dikelilingi oleh permukiman seperti ini, diperlukan sistem ‘arrestor bed’ di ujung landasan pacu guna mencegah kejadian serupa terulang kembali,” lanjutnya.
Meski demikian, penyebab pasti kecelakaan masih belum ditetapkan. NTSB dijadwalkan memberikan perkembangan terbaru mengenai penyelidikan pada Selasa (8/9/2026). (ham)

NOW ON AIR SSFM 100

