Rabu, 7 Oktober 2026

Program Kepemimpinan Guru Indonesia Raih UNESCO-Hamdan Prize

Laporan oleh Keumala Fauzan Andini
Bagikan
UNESCO-Hamdan Prize diserahkan kepada tiga penerima dalam rangkaian peringatan World Teachers’ Day di Markas Besar UNESCO, Paris, pada Senin (5/10/2026). Foto: UNESCO

Program pengembangan kepemimpinan kolektif guru dari Indonesia meraih UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2025–2026, penghargaan internasional UNESCO yang diberikan kepada program yang dinilai berkontribusi terhadap pengembangan profesi guru dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan World Teachers’ Day di Markas Besar UNESCO, Paris, pada Senin (5/10/2026).

Muhammad Luqman Hakim, Program Development Specialist Yayasan Guru Belajar, hadir mewakili lembaganya dalam upacara penganugerahan dan sesi panel.

Program yang meraih penghargaan tersebut adalah Collective Teacher Leadership Development Programme yang diluncurkan pada 2021.

Program ini menempatkan guru sebagai pemimpin kolektif dalam ekosistem pendidikan, bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan.

Hingga saat ini, program tersebut telah melibatkan 61.717 guru di 91 kabupaten dan kota di Indonesia. Pendekatannya memadukan pembelajaran digital, sumber daya praktik pembelajaran, pendampingan antarguru, refleksi, serta kolaborasi lintas sektor.

Indonesia menjadi satu dari tiga penerima UNESCO-Hamdan Prize tahun ini. Dua penerima lainnya adalah Ogretmen Akademisi Vakfı–Teachers’ Academy Foundation dari Turkiye melalui program ORAV Education Festival – Teacher-Led Professional Learning Ecosystem dan Gondar College of Teachers’ Education dari Ethiopia melalui program Maker-Teachers.

Ketiga program tersebut dinilai memiliki pendekatan inovatif dalam pengembangan profesi dan kepemimpinan guru.

UNESCO-Hamdan Prize memiliki total nilai 300.000 dolar AS yang dibagi rata kepada tiga penerima. Masing-masing penerima memperoleh dukungan sebesar 100.000 dolar AS.

Selain dukungan pendanaan, penghargaan tersebut membuka peluang untuk memperluas jejaring internasional dan pertukaran praktik antarpenerima.

Komunitas pendidikan dari Indonesia, Turkiye, dan Ethiopia akan berkolaborasi untuk berbagi pengalaman sekaligus mempelajari pendekatan pengembangan profesi guru dari masing-masing negara.

Luqman mengatakan tantangan terbesar dalam membangun kepemimpinan guru bukan semata persoalan teknis, melainkan perubahan cara pandang terhadap posisi guru dalam sistem pendidikan.

“Selama ini guru sering diposisikan sebagai pelaksana yang menjalankan instruksi dari atas, jarang terlibat dalam pengembangan profesionalnya, sehingga mental model guru sebagai pelaksana teknis sudah mengakar begitu kuat,” ujar Luqman dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net.

Menurutnya, ketika guru mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan didorong berkolaborasi dengan murid maupun sesama guru, proses tersebut membutuhkan waktu serta lingkungan yang memberikan rasa aman untuk mencoba.

“Jadi ketika guru diajak menjadi pengambil keputusan, berkolaborasi dengan murid dan sesama guru, itu butuh waktu dan butuh rasa aman untuk mencoba,” katanya.

Perubahan kepemimpinan guru juga membutuhkan dukungan dari lingkungan sekolah. Guru yang mulai melakukan perubahan masih dapat berhadapan dengan sistem yang lebih menekankan kelengkapan administrasi dan kepatuhan prosedural dibandingkan memastikan murid memperoleh pembelajaran yang bermakna.

Tantangan lainnya adalah menjaga komunitas guru tetap aktif sekaligus melahirkan generasi penggerak baru.

Dukungan dari UNESCO-Hamdan Prize, kata Luqman, akan diarahkan untuk memperkuat komunitas guru yang telah berkembang.

“Kami ingin mendukung lebih banyak komunitas guru, terutama di daerah di mana guru masih merasa berjuang sendirian, memperkuat pendampingan, dan mengukur lebih baik bagaimana perubahan guru sampai ke pembelajaran murid,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi juga akan diperluas agar komunitas guru dapat saling terhubung dalam skala yang lebih besar.

Ke depan, kepemimpinan kolektif guru diharapkan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari cara kerja sistem pendidikan. Penguatan kemitraan dengan pemerintah daerah, regenerasi komunitas, riset mengenai dampak terhadap murid, serta kolaborasi komunitas guru lintas negara menjadi sejumlah agenda yang akan dikembangkan.

“Percayai guru. Guru bukan hanya pelaksana kebijakan, guru mampu memimpin perubahan, apalagi ketika mereka belajar bersama,” tegas Luqman. (saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Rabu, 7 Oktober 2026
33o
Kurs