Angka kesepian di Indonesia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bahkan, sebuah penelitian mengungkapkan 62 persen masyarakat Indonesia mengaku merasa kesepian meski berada di tengah keramaian.
Meski sedang bersama-sama dengan kekasih, teman, atau kerabat, tidak dapat dimungkiri bahwa orang-orang dapat merasa terisolasi. Menurut Dr. Diana Rahmasari, Dosen Psikologi Perkembangan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kondisi ini merupakan dampak nyata dari pergeseran pola hidup masyarakat modern.
“Iya saya pikir itu memang konsekuensi dari apa ya kehidupan sekarang itu yang gaya hidupnya lebih cepat, individualistik dan tentunya efek dari digital ya,” ujar Dr. Diana saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (27/4/2026).
Menurut Diana, keberadaan fisik anggota keluarga di dalam satu rumah tidak menjamin seseorang terbebas dari rasa sepi. Banyak individu justru merasa terasing karena absennya meaningful connection atau koneksi yang bermakna di antara mereka.
“Jadi, misal dia ada saudara ada orang tua gitu ya. Tapi karena kesibukan masing-masing tidak adanya koneksi yang bermakna atau meaningful connection gitu ya. Jadi sudah sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri, aktivitas sendiri-sendiri, komunikasi hanya sekedar ya say hello ada di rumah tapi sudah sibuk dengan gadget ya loneliness. Tidak ada validasi emosi seperti itu. Sehingga (muncul pertanyaan) ‘kok saya ini enggak disayang, kok saya ini enggak dibutuhkan kan begitu’,” jelasnya.
Selain lanjut usia (Lansia) yang berada dalam zona merah karena hambatan teknologi, fenomena ini banyak ditemukan pada generasi muda (Gen Z), terutama mahasiswa yang terjebak dalam pola hidup “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Dr. Diana menyebut banyak dari mereka yang menciptakan kesepian itu sendiri karena enggan bersosialisasi secara nyata.
Namun, survei juga menyoroti kerentanan pria yang sering kali kesulitan mengungkapkan perasaan akibat konstruksi sosial.
“Fenomenanya kan karena laki-laki lebih susah untuk curhat ya. Memang laki-laki itu tidak terkonstruksikan tidak terbiasa terbuka, curhat, ember gitu ya. Padahal laki-laki mau curhat ya curhat aja kan begitu,” ungkapnya.
Karena itu, data 62 persen itu menurutnya jadi alarm keras para praktisi kesehatan mental. Kesepian yang berkepanjangan dapat menjadi pintu masuk bagi gangguan psikologis yang lebih berat, mulai dari gangguan tidur hingga depresi klinis.
“Kalau mengacu pada data 62 persen lebih dari 50, berarti memang jadi sebuah warning ya. Ini yang harus kita perhatikan karena lonliness itu nanti akan menjadi sebuah kondisi yang akan membuat orang itu mengalami depresi, kecemasan, stres gitu ya. Jadi potensi-potensi permasalahan emosional, gangguan tidur, penurunan kualitas hidup, overthinking kalau anak zaman sekarang kan? Jadi ya memang ini akan menjadi sebuah pemicu gangguan kesehatan mental.” papar Dr. Diana.
Ia menambahkan bahwa tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai adalah munculnya perasaan hampa, kosong, putus asa, serta pola pikir negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Meski tantangan digitalisasi begitu besar, Dr. Diana menekankan bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk memutus mata rantai kesepian. Kuncinya adalah kembali pada kendali diri, dan memanfaatkan budaya gotong royong serta empati yang masih kuat di Indonesia.
Ia menyarankan masyarakat untuk lebih aktif mencari interaksi sosial yang nyata, mengikuti kegiatan komunitas, dan memiliki setidaknya satu atau dua sahabat sebagai tempat berbagi dukungan emosional.
“Kita itu adalah raja sendiri loh, Mbak. Kontrol itu di kita. Kalau ada gadget itu kontrol gadget itu di kita. Jadi kita adalah tuan dan raja terhadap gadget. Bukan gadget tuan dan raja kita, tapi kita adalah tuan dan raja terhadap gadget. Kembalinya di kita,” tegasnya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
