Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya mengukuhkan Prof Dossy Iskandar sebagai guru besar pertama dari fakultas hukum yang berasal dari kalangan alumni, Rabu (22/4/2026) di Graha Ubhara.
Dalam pengukuhan itu, Prof Dossy menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti tentang ambivalensi sikap terhadap partai politik, dengan tajuk “Ide Normatif Partai Politik Dalam Konteks Konstitusi Dan Cita Demokrasi”.
Menurut Prof Dossy, saat ini muncul fenomena ambivalensi atau ketidakjelasan sikap masyarakat terhadap eksistensi partai politik.
Padahal, partai politik sangat dibutuhkan sebagai pranata demokrasi. Namun di sisi lain, kehadirannya sering kali disikapi dengan curiga dan dianggap sebagai sesuatu yang perlu dikendalikan.
“Posisi partai politik sebagai peserta pemilihan umum (pemilu) sebenarnya telah dikukuhkan legalitasnya oleh hukum dan konstitusi. Pemilu sendiri merupakan modus vivendi atau cara hidup demokrasi dalam proses rekrutmen politik untuk jabatan negara,” katanya, saat orasi.
Prof Dossy menyampaikan bahwa lonstitusi dan undang-undang menempatkan pemilu sebagai unit demokrasi yang beradab dan dibentengi asas-asas luhur. Itu semua, lanjutnya, adalah anima legis atau roh dari hukum pemilu.
Adapun sebelum dikukuhkan sebagai guru besar, Prof Dossy telah mengabdi sebagai dosen di Ubhara Surabaya sejak 1987.
“40 tahun saya mengajar di sini dan alhamdulillah sekarang menjadi guru besar dari alumni yang sejak awal mengabdi di sini sampai sekarang yang pertama,” tuturnya.
Meski begitu, pencapaian sebagai guru besar, bagi Prof Dossy bukanlah tujuan akhir, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Yang terpenting itu kan bukan mencapai guru besarnya. Tapi setelah memperoleh jabatan guru besar itu bagaimana bertindak sebagai guru besar. Sikap dan tindakan harus lebih terkontrol, memberikan transformasi pengetahuan, berinteraksi dengan masyarakat, dan berkontribusi penting bagi bangsa dan negara,” jelasnya.
Sementara itu, dalam pengukuhan guru besar Ubhara Surabaya hadir pula Surya Paloh Ketua Umum DPP Partai Nasdem. Dia memberikan pandangannya terkait bertambahnya ahli dari bidang akademik.
Menurut Paloh, penting bagi bangsa Indonesia untuk lebih mengapresiasi capaian-capaian intelektual dan memiliki optimisme dalam membangun masa depan.
“Ada yang harus dicermati sungguh-sungguh sebagai bangsa Indonesia. Perlu juga dilakukan kontemplasi. Sampai saat ini masih membicarakan tentang keaslian ijazah. Padahal dengan adanya guru besar, ini sebuah harapan. Kita harus punya rasa optimisme,” tutupnya.(kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
