Senin, 2 Februari 2026

Risiko Penyakit Jantung Meningkat, Dokter Soroti Lemahnya Kontrol Kolesterol pada Pasien Diabetes

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Sekitar seratus tenaga medis di Jawa Timur membahas tingginya prevalensi diabetes, rendahnya pengendalian kolesterol, dan terapi terbaru di Surabaya, pada Minggu (1/2/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Tingginya prevalensi diabetes dan masih rendahnya keberhasilan pengendalian kolesterol menjadi tantangan serius kesehatan masyarakat di Jawa Timur. Kondisi itu mendorong perlunya pendekatan terapi yang lebih ketat dan berbasis risiko, khususnya untuk mencegah penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 11,7 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 10,6 persen. Jawa Timur (Jatim) termasuk wilayah dengan jumlah penyandang diabetes yang besar, seiring kepadatan penduduk dan pola hidup yang kian berisiko.

Para dokter menyoroti bahwa diabetes secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Namun, dalam praktik sehari-hari, pengelolaan kolesterol pada kelompok berisiko tinggi dinilai masih belum optimal.

“Pasien diabetes memiliki risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi. Karena itu, pengendalian kolesterol harus lebih agresif dan tidak bisa disamakan dengan pasien risiko rendah,” kata dr. Soebagijo Adi, endokrinolog RSUD Dr. Soetomo, dalam diskusi medis yang digelar di Surabaya, Minggu (1/2/2026)

Ia menjelaskan, banyak pasien belum mencapai target kadar kolesterol LDL meski sudah menjalani pengobatan. Hal itu menurutnya, menunjukkan perlunya strategi terapi yang lebih presisi sejak fase awal pengobatan, terutama pada pasien dengan faktor risiko ganda.

dr. Suryono Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Surabaya menilai, pengobatan penyakit kardiometabolik masih kerap terkendala keterlambatan intervensi dan kepatuhan pasien.

“Dalam praktik klinis, kita masih menemukan banyak pasien yang kolesterolnya tidak terkontrol dengan baik. Ini menjadi celah besar dalam upaya pencegahan penyakit jantung,” ucapnya.

Bahkan, kata dia, data klinis menunjukkan sebagian besar pasien jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL untuk kelompok risiko sangat tinggi. Kondisi itu berimplikasi langsung pada tingginya angka kejadian ulang serangan jantung dan komplikasi lain.

Sementara dr. Yudi Her Oktaviono, Kepala Divisi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUD Dr. Soetomo, mengungkapkan bahwa sekitar 91,5 persen pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C kategori risiko sangat tinggi, yaitu 55 mg/dL.

Ia menyebut, kesenjangan antara pedoman medis dan kondisi nyata di lapangan masih lebar, padahal penurunan kolesterol yang adekuat terbukti berkaitan langsung dengan perbaikan prognosis.

“Dalam konteks ini, terapi kombinasi sejak dini dengan efektivitas yang telah terbukti merupakan strategi rasional untuk menjembatani kesenjangan terapi dan secara signifikan meningkatkan prognosis pasien”.

Baik In Hyun direktur daewoong pharmaceutical Indonesia mengatakan bahwa perlu juga terapi kombinası dosis tetap (fixed-dose combination/FDC) untuk pengobatan dislipidemia.

Ia menjelaskan, terapi tersebut bekerja melalui kombinasi rosuvastatin, yang menghambat sintesis kolesterol di hati, dan ezetimibe yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus, sehingga terapi tersebut akan memberikan efek penurunan LDL-C yang lebih kuat dan tetap aman, bahkan pada dosis yang relatif rendah.

“Ini menjadi langkah bermakna dalam memperkenalkan opsi terapi berbasis bukti ilmiah,” katanya.

Para ahli menekankan, persoalan itu tidak bisa hanya dibebankan pada dokter atau pasien semata. Melainkan, butuh sistem pengelolaan penyakit kronis yang lebih terintegrasi, mulai dari deteksi dini, pengobatan yang tepat, hingga edukasi berkelanjutan agar pasien memahami pentingnya kepatuhan terapi.

Seperti diketahui, dalam diskusi bertajuk “Dyslipidemia Treatment Surabaya Regional Launch Symposium” di Surabaya itu dihadiri lebih dari 100 tenaga medis Jawa Timur. Acara itu selain menyoroti strategi optimal dalam pengelolaan LDL-C (low-density lipoprotein cholesterol) juga membahas perkembangan klinis terbaru terkait terapi kombinasi dua mekanisme antara ezetimibe dan rosuvastatin.(ris/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 2 Februari 2026
33o
Kurs