Lampu-lampu dari bangunan semi permanen mulai dinyalakan menjelang pukul 04.30 WIB menandakan warga setempat memulai makan sahur, Kamis (26/2/2026).
Warga di Desa Ujung Karang, Kecamatan Serbajadi Lokop, Kabupaten Aceh Timur masih menjalani hidup serba adanya usai kampung mereka porak poranda disapu banjir bandang.
Pantauan suarasurabaya.net, kini sebagian warga masih tinggal di kawasan bantaran Sungai Lokop yang merupakan zona merah bencana.
Meski hidup serba adanya, mereka tetap bertahan di antara bekas-bekas material dan lumpur yang mulai mengering.
Mustafa salah satu warga Desa Ujung Karang mengatakan, saat ini dirinya telah mendirikan bangunan semi permanen dari kayu sambil menunggu hunian tetap (huntap) selesai dibangun.
“Sudah tiga bulan kami di sini, tinggal sama ibu, anak dan istri,” katanya.
Rumah semi permanen itu jauh dari kata nyaman. Rangkaian kayu-kayu itu tidak mampu menahan panas matahari terik dan dinginnya angin malam Aceh Timur.
“Iya kalau siang gitu panas,” jelasnya.
Pascabanjir bandang yang menerjang desanya empat bulan lalu, Mustafa dan warga sekitar hidup serba pas-pasan serta mengandalkan uluran bantuan dari para relawan.
Kemudian pada malam sahur hari ketujuh, Tim Lazisnu Jawa Timur mulai melakukan aktivasi dapur umum untuk memberikan makan sahur dan buka puasa.
Dapur umum Lazisnu Jatim di Aceh Timur akan mendistribusikan 200 porsi untuk buka puasa dan 200 porsi makan sahur selama Bulan Ramadan berlangsung.
“Alhamdulillah kalau malam ini bisa dapat bantuan dari Lazisnu Jawa Timur, jadi bantu kami untuk makan sahur,” katanya.
Dia berharap fase pemulihan bencana bisa berlangsung signifikan dan warga penyintas segera mendapat hidup yang layak.
“Ya selama ini hidup apa adanya gini, kami berharap lebih diperhatikan lagi nasib kami. Terutama huntap, yang katanya sudah mulai dibangun,” ungkapnya.(wld/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
