Antonio Guterres Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB pada Jumat (6/3/2026), mengingatkan situasi eskalasi militer yang terjadi di Timur Tengah semakin memburuk dan menegaskan kepada semua pihak untuk segera melakukan negosiasi.
“Sudah saatnya menghentikan pertempuran dan memulai negosiasi diplomatik yang serius. Taruhannya sangat tinggi,” katanya seperti dikutip kantor berita Anadolu, Sabtu (7/3/2026).
Sekjen PBB menegaskan eskalasi militer yang terjadi di Timur Tengah dan wilayah Teluk telah di luar kendali siapa pun.
“Semua serangan ilegal di Timur Tengah dan sekitarnya menyebabkan penderitaan dan kerugian yang luar biasa bagi warga sipil di seluruh wilayah, dan menimbulkan risiko serius bagi perekonomian global, khususnya bagi orang-orang yang paling rentan,” jelas Guterres.
Lebih lanjut, Stephane Dujarric, juru bicara Guterres mengatakan dalam konferensi pers bahwa Sekjen PBB itu akan terus menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendorong pelaksanaan negosiasi diplomatik.
BACA JUGA: Israel Bombardir Wilayah Lebanon Usai Peringatan Evakuasi
Dujarric menjelaskan, situasi ini bisa mengancam hubungan antar negara dan penderitaan warga sipil bisa terus berlanjut.
“Tidak perlu banyak imajinasi untuk melihat bagaimana situasi ini bisa menjadi lebih buruk lagi, baik itu mengancam persatuan negara-negara anggota tertentu, penderitaan warga sipil yang terus berlanjut, atau juga memburuknya situasi di sekitar Selat Hormuz,” ungkapnya.
Dampak dari situasi ini, menurutnya sudah dapat dirasakan dalam sektor energi secara global. “Kita sudah melihat lonjakan harga minyak dan dampaknya mengingat ketergantungan kita yang berkelanjutan pada bahan bakar fosil,” kata Dujarric.
Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Dujarric lebih lanjut melaporkan bahwa perintah pengungsian di Lebanon yang terus digencarkan menyebabkan tekanan meningkat pada warga sipil.
“Serangan udara yang terus berlanjut di seluruh negeri menewaskan dan melukai puluhan orang,” katanya. “Di seluruh negeri, lebih dari 100.000 orang kini berlindung di pusat-pusat pengungsian kolektif.”
Jubir Guterres itu juga melaporkan, rumah sakit di Beirut, Lebanon, saat ini tidak beroperasi dan terpaksa mengevakuasi pasien yang dirawat di sana.
“Rumah sakit di Beirut Selatan terpaksa menangguhkan operasi dan mengevakuasi pasien pada tanggal 5 Maret dan tetap tidak beroperasi hingga hari ini,” ungkapnya.(ily/bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
