Sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan menggelar Festival Bulan Sawunggaling, mulai 4 sampai 18 Oktober 2026, di kawasan Lidah Wetan, Surabaya.
Andy Bocor Ketua Sembrani Bumi Nusantara menjelaskan, festival yang didukung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini dimulai pada 4 Oktober lalu dengan kirab budaya dan tari remo massal yang diikuti oleh sekira 1.500-an penari.
“Kemudian tanggal 7 Oktober kemarin, juga diadakan Campursari Siswo Laras di sekitar Lidah Wetan, Surabaya,” kata Andy, saat onair dalam program Semanggi Suroboyo Radio Suara Surabaya, Jumat (9/10/2026).
Selain itu, pada Sabtu (10/10/2026) besok, LPMK Lidah Wetan juga akan menggelar tasyakuran, membagikan 1.000 tumpeng dan khataman Alquran yang diikuti oleh 1.000 orang.
“Besok itu kami ada dua rangkaian acara yakni, khotmil Quran diikuti oleh kurang lebih 1.000 pembaca dan bagi-bagi tumpeng untuk 1.000 orang,” ungkapnya.
Dalam acara itu, LPMK Lidah Wetan telah berkoordinasi dengan pihak terkait karena akan melakukan penutupan jalan Lidah Wetan mulai dari ujung barat hingga timur.
Selanjutnya pada Minggu (11/10/2026), akan diadakan pagelaran seni dan budaya yang bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Hari minggu itu juga ada dua kegiatan. Ada gelaran tari budaya yang diikuti oleh 250 penari anak-anak. Kemudian malam harinya akan ada wayang kulit dan Campursari Barada Unesa yang menampilkan wayang kulit oleh Ki Johan,” jelasnya.
Sementara itu, secara berturut-turut pada tanggal 14 sampai 18 Oktober, akan ada sejumlah pagelaran. Mulai dari sarasehan budaya, istiqomah haul akbar, sampai Sayembara Jemparingan Adipati Surabaya dan Festival Salam Surabaya.
Adapaun Heri Purwadi Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (Kadisbudporapar) Kota Surabaya menerangkan, sejumlah kegiatan ini akan diadakan di Lidah Wetan.
Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan mengingat segala peninggalan sejarah Sawunggaling, mayoritas berada di Lidah Wetan.
“Iya, karena Sawunggaling juga kita ketahui lahir di sana sampai petilasannya pun ada di sana. Untuk mengenang kembali atau mengingat. Termasuk soal penempatan Patung Ayam Jago, supaya orang ingat,” tutupnya.(kir/ipg)







