Polri terus memperkuat kualitas rekrutmen calon perwira melalui sistem seleksi yang semakin modern, transparan, dan berbasis prestasi.
Pada Seleksi Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026, sebanyak 350 peserta dinyatakan lolos untuk mengikuti pendidikan setelah melalui rangkaian seleksi ketat di tingkat pusat.
Penetapan kelulusan dilakukan dalam Sidang Penetapan Kelulusan yang diselenggarakan Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri di Auditorium Cendekia Akpol, Semarang.
Dari total 404 peserta yang mengikuti seleksi tingkat pusat, sebanyak 320 calon taruna dan 30 calon taruni berhasil memenuhi seluruh persyaratan.
Proses seleksi tahun ini menghadirkan pembaruan melalui penerapan Computer Assisted Test (CAT) dengan materi Tes Potensi Akademik berstandar olimpiade. Sistem tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, analitis, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara komprehensif.
Irjen Pol Anwar, Asisten Kapolri Bidang SDM mengatakan penerapan sistem seleksi berbasis merit menjadi langkah penting dalam mencetak calon perwira Polri yang berkualitas.
“Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan pada kualitas peserta. Kami terus mendorong sistem seleksi yang objektif, transparan, dan mampu menjaring calon-calon perwira Polri terbaik,” ujar Anwar dalam keterangan resminya, Selasa (28/7/2026).
Objektivitas seleksi juga diperkuat melalui prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH). Untuk memastikan seluruh tahapan berjalan secara terbuka, Polri menggandeng berbagai lembaga independen sebagai pengawas, di antaranya Ombudsman RI, Setara Institute, Centra Initiative, Amnesty International Indonesia, serta Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP).
Komposisi penilaian dilakukan secara proporsional, yakni Tes Potensi Akademik sebesar 30 persen, Bahasa Inggris 30 persen, Kesamaptaan Jasmani 30 persen, dan Penampilan 10 persen.
Hasil seleksi menunjukkan persaingan yang semakin kompetitif, dengan nilai tertinggi Tes Potensi Akademik mencapai 80 dan nilai tertinggi Bahasa Inggris sebesar 82.
Salah satu inovasi yang mendapat apresiasi peserta adalah keterbukaan hasil ujian. Setiap peserta dapat langsung melihat nilai yang diperoleh melalui komputer masing-masing setelah tes selesai, sebelum seluruh hasil dicetak dan ditandatangani bersama sebagai bentuk transparansi.
Ghyna Islamiati Ramly salah seorang calon taruni yang dinyatakan lulus mengaku sistem tersebut membuat proses seleksi terasa lebih adil bagi seluruh peserta.
“Menurut saya rekrutmen ini adil karena nilai langsung ditampilkan di komputer masing-masing, jadi kami bisa langsung melihat hasil sendiri,” kata Ghyna.
Ia juga mengapresiasi mekanisme publikasi nilai seluruh peserta yang dilakukan panitia.
“Semua nilai peserta di-print dalam satu kertas untuk ditandatangani bersama-sama. Jadi kami bisa melihat nilai peserta lain juga,” ujarnya.
Menurut alumnus SMA Al-Azhar Mandiri Palu itu, seluruh peserta memperoleh perlakuan yang sama tanpa memandang asal daerah maupun latar belakang.
“Saya merasa panitia memperlakukan masing-masing dari kami secara adil, tidak melihat latar belakang kami apa. Aturannya berlaku sama untuk semua peserta,” tuturnya.
Sementara itu, Komjen Pol Dedi Prasetyo Wakapolri menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam menyiapkan pemimpin Polri di masa depan.
“Masa depan Polri sangat bergantung pada sejauh mana kita mempersiapkan generasi penerusnya. Tugas kita bukan hanya melahirkan sumber daya manusia yang unggul secara intelektual dan profesional, tetapi juga membentuk insan Bhayangkara yang berkarakter kuat, berintegritas, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berani memimpin perubahan untuk menjawab tantangan keamanan yang semakin kompleks. Pendidikan menjadi fondasi utama dalam melahirkan pemimpin Polri masa depan yang Presisi, humanis, dan dipercaya masyarakat,” ujar Dedi.(faz/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

