Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Indonesia, mendapat respon dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), yang secara tegas meminta pemerintah segera mengambil langkah cepat dan serius.
Dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Selasa (20/10/2026), Majelis Pekerja Harian PGI (MPH-PGI) menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas bencana karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pdt. Jacklevyn Manuputty Ketua Umum PGI menerangkan, bencana karhutla ini telah merusak ekosistem serta menimbulkan penderitaan, bahkan mengancam kehidupan manusia dan seluruh ciptaan.
“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas kebakaran hutan dan lahan yang melanda berbagai wilayah Indonesia di pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kebakaran ini merupakan bencana ekologis yang merusak ekosistem serta menimbulkan penderitaan, bahkan mengancam kehidupan manusia dan seluruh ciptaan,” katanya.
Pdt. Jacklevyn juga memberikan apresiasi kerja keras para petugas pemadam kebakaran, relawan, tenaga kesehatan, masyarakat setempat, dan semua pihak yang berjuang menangani kebakaran hutan dan lahan serta menolong warga terdampak.
“Namun, kebakaran yang terus berlangsung dan berulang menuntut penanganan yang lebih cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan. Keselamatan manusia, pemulihan ekosistem, dan pencegahan kebakaran di masa depan harus menjadi prioritas bersama,” tegasnya.
Merespons situasi itu, MPH-PGI menyampaikan lima seruan baik untuk pemerintah pusat maupun gereja-gereja anggota PGI untuk mengambil sikap tegas.
Dalam surat keterangan itu, MPH-PGI meminta pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengambil langkat cepat, serius, dan terkoordinasi.
“Kami juga meminta kepada pemerintah dan stakeholder untuk memastikan perlindungan dan bantuan bagi masyarakat terdampak, termasuk pelayanan kesehatan, masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap, ruang dengan udara bersih, serta bantuan bagi warga yang kehilangan mata pencaharian,” tambahnya.
Kepada aparat penegak hukum (APH), lanjut Pdt. Jacklevyn, pihaknya meminta adanya pengusutan tuntas penyebab kebakaran secara transparan, menindak tegas pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab, serta memperkuat pengawasan terhadap pembukaan dan pengelolaan lahan, termasuk kawasan konsesi. Pencegahan dan penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten agar kebakaran tidak terus berulang.
Keempat, meminta pemerintah bekerja sama dengan negara lain dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, penanganan kabut asap lintas batas, pertukaran informasi, serta pemulihan ekosistem.
“Dan yang terakhir, kami meminta pada seluruh gereja anggota PGI untuk wujudkan solidaritas melalui doa dan tindakan nyata bagi masyarakat terdampak,” terangnya.
Pdt. Jacklevyn mengutip satu Firman Tuhan yang menegaskan bahwa manusia diberi mandat untuk mengusahakan dan memelihara bumi ciptaan Allah (Kejadian 2:15).
“Panggilan ini menegaskan tanggung jawab kita sebagai penatalayan ciptaan: mengelola alam dengan bijaksana, menjaga keseimbangan kehidupan, dan mewariskan bumi yang layak huni bagi generasi mendatang,” tegasnya.
“Kami berdoa agar Tuhan melindungi masyarakat yang terdampak, menguatkan semua pihak yang berjuang mengatasi bencana ini, serta menganugerahkan hikmat dan keberanian kepada para pemimpin bangsa untuk mengambil keputusan yang adil, tegas, dan bertanggung jawab. Kiranya kita dimampukan untuk memelihara bumi sebagai rumah bersama, tempat manusia dan seluruh ciptaan hidup dalam damai sejahtera Allah,” tutupnya.(kir/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

