Temuan HIV di Kabupaten Sidoarjo tercatat mencapai 7.230 kasus secara kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Di antara ribuan kasus itu, sebanyak 1.708 orang meninggal dunia, bahkan penyakit menular tersebut juga menjangkit kepada pasien usia anak.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, tercatat 117 kasus terjadi pada usia 0–10 tahun dengan 35 kematian, kemudian 60 kasus pada usia 11–17 tahun dengan tujuh kematian.
Selanjutnya 1.006 kasus pada usia 18–24 tahun dengan 123 kematian, serta 6.047 kasus pada usia di atas 25 tahun dengan 1.543 kematian.
Menanggapi hal tersebut, Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) menilai tingginya kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo harus dilihat secara komprehensif karena penyebab penularannya sangat beragam.
“Begini, ini adalah peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat kita dan penyebabnya beragam. Bagaimana seseorang bisa terinfeksi HIV juga berbeda-beda. Ada yang karena pergaulan yang salah, ada juga yang melalui penggunaan narkoba,” kata Emil dikutip pernyataannya, Kamis (23/7/2026).
Tingginya angka HIV tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan provinsi untuk menelusuri akar persoalannya. Di sisi lain, pengidap penyakit harus terjamin dan mendapat pelayanan kesehatan yang layak.
“Semua ini harus kita cermati akar permasalahannya, sekaligus bagaimana kita menyikapi mereka yang sudah terlanjur mengidap HIV. Mereka tentu memerlukan perlakuan dan pelayanan kesehatan yang semestinya agar bisa menangani kondisi yang mereka alami,” jelasnya.
Emil menjelaskan bahwa kasus HIV di Sidoarjo bukan persoalan yang baru diketahui pemerintah. Selama ini, Dinkes Sidoarjo terus melaporkan secara intensif ke Dinkes Jatim hasil pantauan dan temuan di lapangan terkait penyakit menular.
“Jadi kasus di Sidoarjo ini bukan baru dibahas, melainkan kelanjutan dari koordinasi yang selama ini sudah berjalan. Hanya saja, kali ini datanya terbuka ke publik dan menjadi angka yang mengejutkan,” katanya.
Dari hasil pelaporan itu, Wagub Jatim itu menilai persoalan HIV di Kabupaten Sidoarjo sangat kompleks sehingga diperlukan perencanaan dan langkah baru untuk menekan sebaran kasus.
Menurut Emil, salah satu upaya mitigasi yang efektif harus dimulai dari penguatan bahaya HIV melalui ranah keluarga dan peran sekolah dalam memberikan sosialisasi.
“Karena persoalannya cukup kompleks, diperlukan langkah-langkah baru yang dapat memitigasi permasalahan ini. Untuk generasi muda, misalnya, kita bisa merintis berbagai upaya baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah,” jelasnya.
Emil juga menegaskan bahwa pemerintah provinsi terus melakukan pemantauan dan memberi perhatian serius terhadap seluruh penyakit menular maupun tidak menular di Jawa Timur, termasuk HIV.
“Sebenarnya bukan hanya Sidoarjo. Kami memperhatikan seluruh jenis penyakit, baik menular maupun tidak menular. Semua memiliki sistem monitoring masing-masing, termasuk HIV,” tuturnya.
Emil berharap, mencuatnya temuan HIV di Sidoarjo dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. “Sejak awal kami sudah memberikan peringatan bahwa HIV bukan penyakit yang bisa dianggap remeh dari sisi tingkat penyebarannya,” tandasnya.
Sementara itu, Dinkes Sidoarjo juga mencatat terdapat 810 pasien yang masuk kategori lost to follow up (LFU), terdiri dari 565 orang berdomisili di luar Kabupaten Sidoarjo, 52 orang menolak melanjutkan pengobatan, dan 193 orang telah ditelusuri namun tidak ditemukan.(wld/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

