Rencana program “gentengisasi” yang diusulkan Prabowo Subianto Presiden RI akan menjadi program nasional karena dinilai penting. Alasannya, rumah yang memakai genteng jadi lebih estetik dan mencegah suhu panas berlebih di dalamnya.
Merespons usulan itu, Radio Suara Surabaya melakukan polling ke pendengar dengan tajuk, “Anda SETUJU atau TIDAK dengan program Gentengisasi yang diusulkan Prabowo?”.
Polling ini diambil dari media sosial Instagram @suarasurabayamedia dan secara langsung lewat pesan serta telepon yang masuk saat program Wawasan Polling berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.
Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya, Kamis (12/2/2026), respons masyarakat kompak tidak setuju dengan program gentengisasi yang diusulkan Prabowo.
Berdasar data dari pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 67 persen atau 138 pendengar tidak setuju dengan program gentengisasi. Sedangkan 33 persen sisanya atau 68 pendengar mengaku setuju.
Kemudian data dari Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 66 persen atau 393 pengguna tidak setuju dengan program gentengisasi. Sedangkan 34 persen sisanya atau 201 pendengar mengaku setuju.
Soal program gentengisasi yang akan digarap pemerintah, Prof Djwantoro Hardjito Guru Besar Teknik Sipil dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Kristen (UK) Petra menegaskan bahwa pihaknya tidak setuju, terlebih jika ini harus dibuat massal.
“Saya pribadi tidak setuju, dengan sejumlah catatan. Terlebih dimassalkan dan belum terlalu urgent di Indonesia,” katanya, saat onair di Radio Suara Surabaya, Kamis (12/2/2026).
Prof Djwantoro memaparkan, atas rumah dari bahan seng ataupun genteng, semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Atap dari seng, misalnya. Secara ukuran memang lebih ringan dari genteng. Tapi, atap dari seng lebih mudah menghantarkan panas dan berisik saat hujan turun. Penggunaan dalam jangka panjang, bisa mengakibatkan seng menjadi berkarat.
Hal ini tentu tidak ditemui ketika masyarakat menggunakan genteng, yang lebih berat secara massa dan tidak menyerap panas.
“Tapi pemerintah perlu cermat kalau mau menerapkan ini sebagai kebijakan umum di Indonesia. Genteng memang punya kelebihan, tapi juga ada sisi lain. Genteng lebih berat, jadi struktur penahan atapnya harus lebih kuat,” ungkapnya.
Menurut Prof Djwantoro, dengen memberlakukan program itu secara menyeluruh, pemerintah tidak bisa hanya berpikir mengganti atap rumah masyarakat dengan genteng saja. Perlu penahan yang kuat untuk genteng itu sendiri.
Kalau dari perspektif teknik sipil, lanjut Prof Djwantoro, menggunakan seng atau genteng tetap diperlukan perencanaan pembangunan yang berbeda.
“Misal mau pakai genteng, harus diukur kemiringannya. Kemudian rangka atap harus diganti. Harus bikin rangka atap yang tepat untuk genteng. Ini bukan tidak mungkin akan membuat biaya pembangunan jauh lebih mahal,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Prabowo Subianto mengusulkan agar seluruh rumah di Indonesia menggunakan atap dari genteng, bukan dari seng.
Alasannya, atap seng tidak bisa meredam panas, mudah berkarat, dan kurang estetik.
Pernyataan ini muncul setelah Prabowo melakukan kunjungan ke Aceh Tamiang, untuk melihat hunian sementara (huntara). Di sana, Prabowo menyoroti huntara yang terasa panas karena memakai atap seng.
Usulan itu kemudian direspon oleh Maruarar Sirait Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pihaknya mengaku akan turun langsung ke lapangan, menemui para pengusaha genteng untuk mempersiapkan program gentengisasi.
Soal tantangan biaya kontruksi yang banyak disorot, menurut Maruarar itu adalah bagian dari proses yang harus diperjuangkan pemerintah untuk memulai kebijakan baru.(kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
