Sabtu, 15 Agustus 2020

David da Silva dan Persebaya Beda Sikap Soal Kelanjutan Liga 1

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Pesepak bola Persebaya Surabaya David Da Silva (kedua kiri) berusaha melewati penjaga gawang Persik Kediri Dimas Galih (kiri) dalam laga pembuka Liga 1 Indonesia di Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (29/2/2020). Foto: Antara

David da Silva penyerang Persebaya Surabaya menyambut baik kelanjutan Liga 1 Indonesia, namun hal itu bertentangan dengan sikap manajemen tim yang enggan mengikuti kompetisi karena pandemi Covid-19 belum berakhir.

Di lansir dari laman resmi Liga Indonesia di Jakarta, Minggu (26/7/2020), David da Silva mengatakan liga harus tetap bergulir meski di tengah pandemi karena tidak sedikit pemain yang menggantungkan hidupnya dari sepak bola.

“Saya tidak khawatir. Jika liga kembali itu berarti siapa yang bekerja dengan sepak bola akan mengambil gaji Anda dan akan membantu keluarga Anda untuk meletakkan makanan di atas meja dan itu berarti masalah, kecuali kita bisa menyelesaikannya,” ujar David dilansir Antara.

“Jadi, tidak hanya tentang sepak bola tetapi setiap orang memiliki kehidupan dan memiliki keluarga yang peduli sehingga dengan semua perawatan yang diperlukan kita semua harus kembali bekerja,” katanya melanjutkan.

Menurut David, kompetisi harus tetap berjalan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ada. Apabila dipaksa terus berhenti justru akan mempersulit keadaan mereka.

“Saat saya mengikuti berita tentang pandemi, kami masih tanpa vaksin dan semua orang harus melanjutkan kehidupan,” kata pemain asal Brazil itu.

Sebelumnya, Persebaya Surabaya menjadi satu dari empat tim yang menolak untuk ikut dalam lanjutan Liga 1 Indonesia selain Persik Kediri, Barito Putera, dan Persita Tangerang. Namun belakangan, Persik akan ikut ambil bagian setelah mendapat lampu hijau dari gugus tugas Covid-19.

Azrul Ananda Presiden Persebaya Surabaya mengatakan keputusan untuk melanjutkan kompetisi di tengah situasi yang serba tidak pasti justru akan menambah risiko dan beban bagi klub.

Terlebih situasi di Surabaya jumlah pertambahan pasien dan kematian tertinggi di Indonesia, termasuk di kawasan Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo dan Gresik) yang menyumbang jumlah terbanyak di Jawa Timur.

“Dalam situasi ini, sangat berisiko ada aktivitas sepak bola di semua tingkatan. Pertimbangan-pertimbangan teknis terkait ketidaksetujuan ini juga sudah pernah kami sampaikan,” kata Azrul.(ant/tin)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

M. Aprileo Habie

Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Sabtu, 15 Agustus 2020
26o
Kurs