Rabu, 2 Desember 2020

Punya Potensi Besar, Industrialisasi Olahraga Indonesia Harus Digerakkan

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Keterangan foto: (Kiri ke kanan) Azrul Ananda - Thomas Soeharto - Arumi Bachsin - Stephen Walla - MC Olphie. Foto: Istimewa

Thomas More Soeharto, Direktur PT Incor Bola Pasific mengatakan, agar olahraga mampu menggerakkan dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional, maka visi yang harus dibangun bersama adalah bagaimana olahraga di Indonesia bisa menjadi industri.

“Bukan hanya sekedar sehat dan bugar saja tetapi olahraga ini harus jadi industri. Karena ketika menjadi industri semua akan bergerak, baik event, penjualan jersey hingga peralatan olah raga lainnya seperti sepatu dan bola. Ini harus menjadi visi kita bersama,” tegas Thomas, Jumat (20/11/2020) dalam acara Talkshow INAPRO 2020 yang digelar Kadin Jawa Timur.

Jika didukung dan dikembangkan dengan maksimal, ia optimistis industri ini akan mampu berkontribusi besar terhadap ekonomi di nasional. Thomas mencontohkan di Amerika misalnya, industri olahraga telah berkembang dengan pesat hingga mengalahkan industri otomotif dan perfilman. “Ada satu survei mengungkapkan bahwa industri olahraga di Amerika dua kali lipat dari industri otomotif dan tujuh kali lipat dari industri perfilman Hollywood,” tandasnya.

Arumi Bachsin Ketua Dekranasda Jatim yang juga menjadi Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Jatim mengamini hal tersebut. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, daya beli tidak rendah dan masyarakatnya cenderung konsumtif, Indonesia selalu menjadi sasaran empuk semua negara.

“Harusnya olahraga menjadi sebuah budaya sejak kecil sampai lifestyle masing-masing. Sehingga industri mengikutinya. Dan gerakan BBI (Bangga Buatan Indonesia) ini akan menjadikan produk Indonesia sebagai tuan rumah di negara sendiri,” tekannya.

Di sisi lain, Azrul Ananda Presiden Persatuan Sepakbola Surabaya yang juga menjabat sebagai Founder sekaligus Direktur Utama PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, mengatakan bahwa sejak lama ia menekankan agar seluruh perlengkapan Persebaya dan DBL mulai dari jersey hingga sepatu dan bola, harus menggunakan produk dalam negeri. Karena memang sebagian besar yang aktif di olahraga, masih menggunakan barang produk luar negeri.

“Kalau bicara support produk lokal, sejak awal di DBL, kami sudah mengarah bagaimana sebisa mungkin menggunakan produk Indonesia. Saat DBL dimulai tahun 2004 dan langsung booming, kami membutuhkan bola gila-gilaan untuk kompetisi. Kebutuhannya dalam setahun bisa mencapai seribu bola. Itu hanya untuk liganya saja, belum untuk akademi dan yang lain. Dan kita dulu krisis bola karena tidak ada merek impor yang bisa menyediakan bola sebanyak itu. Federasi Perbasi saja hanya bisa mendapatkan 300 bola untuk dibagi se Indonesia. Bagaimana kemudian olahraga bisa maju kalau bola sangat terbatas,” akunya. (dfn/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah, 12 PMK Di lokasi

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Surabaya
Rabu, 2 Desember 2020
28o
Kurs