Shin Tae-yong akhirnya angkat bicara terkait kabar yang menyebut dirinya dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola Korea Selatan selama 10 tahun oleh Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA).
Pelatih Persija Jakarta itu membantah informasi tersebut dan menegaskan bahwa hukuman yang diterimanya bukan seperti yang diberitakan.
Dalam pernyataannya kepada awak media, Shin memilih tidak mengungkap seluruh detail perkara yang menjeratnya. Meski demikian, ia mengaku merasa ada sejumlah hal yang tidak berjalan secara adil selama proses tersebut.
“Saya tegaskan lagi bahwa (hukuman) itu bukan 10 tahun,” kata Shin Tae-yong di Surabaya pada Sabtu (25/7/2026.
Mantan pelatih Timnas Indonesia itu juga mengaku sebenarnya ingin menjelaskan seluruh persoalan kepada publik. Namun, ia memutuskan untuk menahan diri.
“Saya sebenarnya ingin jujur, ingin mengatakan semuanya. Namun saya tak akan melakukannya. Ada hal-hal yang tidak adil menurut saya. Sebagai mantan pelatih Ulsan HD, saya akan menerima semuanya,” ujarnya.
Shin menegaskan polemik yang terjadi di Korea Selatan tidak akan memengaruhi komitmennya bersama Persija Jakarta. Ia menyatakan saat ini hanya ingin berkonsentrasi membawa Macan Kemayoran meraih hasil terbaik.
“Saya datang ke Jakarta untuk Persija. Jadi saya akan fokus ke tim ini,” tegasnya.
Sebelumnya, KFA dikabarkan menjatuhkan sanksi berat kepada Shin Tae-yong terkait dugaan tindak kekerasan terhadap pemain saat masih menangani Ulsan HD.
Berdasarkan laporan media Korea Selatan, Komite Disiplin KFA telah menyelesaikan proses pemeriksaan sejak awal Juli 2026 dan menyampaikan putusan kepada Shin Tae-yong.
Mengutip laporan Laodong News pada Jumat (25/7/2026), KFA tidak mengungkap rincian perkara dengan alasan perlindungan data pribadi. Federasi hanya menyatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan masuk dalam kategori hukuman berat.
Sejumlah media Korea Selatan melaporkan sanksi tersebut berupa pembekuan lisensi kepelatihan serta larangan mengikuti aktivitas sepak bola di Korea Selatan. Sebelum putusan dijatuhkan, KFA juga disebut sempat mempertimbangkan hukuman larangan melatih seumur hidup.
Kasus tersebut bermula saat Shin Tae-yong menangani Ulsan HD pada periode Agustus hingga Oktober 2025. Ia dituduh menampar bek senior Ulsan, Jung Seung-hyun, dalam sebuah pertemuan tim.
Insiden itu disebut memicu gejolak internal di tubuh klub. Setelah rentetan hasil yang kurang memuaskan, Ulsan HD memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Shin Tae-yong pada Oktober 2025.
Jung Seung-hyun kemudian mengungkap dugaan insiden tersebut pada akhir 2025. Menurutnya, tindakan seperti itu tidak lagi sejalan dengan nilai-nilai sepak bola modern.
“Setiap tindakan yang membuat orang lain merasa terluka dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan,” ujar Jung Seung-hyun.
Meski demikian, sejumlah media Korea Selatan menyebut sanksi KFA hanya berlaku dalam lingkup aktivitas sepak bola di Korea Selatan. Dengan demikian, putusan tersebut tidak secara langsung memengaruhi status Shin Tae-yong sebagai pelatih Persija Jakarta, yang telah resmi menandatangani kontrak pada Juni 2026. (saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

