Olahraga singkat dengan intensitas tinggi disebut memberi dampak langsung yang lebih besar ke tubuh, dibanding olahraga berdurasi panjang dengan intensitas sedang.
Temuan itu muncul dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Cell Reports Medicine. Peneliti menemukan, latihan sprint memicu perubahan molekul dalam tubuh lebih besar dibanding bersepeda selama 90 menit dengan intensitas sedang.
Namun, peneliti menegaskan temuan tersebut belum berarti sprint pasti lebih baik untuk kesehatan secara keseluruhan.
Melansir Health, Sabtu (3/10/2026), Paul Cohen penulis utama studi sekaligus profesor asosiasi dan dokter senior di The Rockefeller University mengatakan, riset ini membantu menjelaskan bagaimana tubuh merespons olahraga dengan intensitas yang berbeda.
Dalam studi itu, Cohen dan timnya membagi 19 laki-laki ke dalam dua kelompok. Semua peserta diminta berolahraga menggunakan sepeda statis.
Kelompok pertama melakukan latihan interval sprint, yaitu enam kali kayuhan dengan intensitas tinggi selama 30 detik. Setiap sesi sprint diselingi waktu pemulihan selama empat menit. Sementara kelompok kedua bersepeda terus-menerus selama 90 menit dengan intensitas sedang.
Peneliti lalu mengambil sampel darah peserta sebelum dan sesudah olahraga. Hasilnya, kelompok sprint menunjukkan perubahan protein dan molekul lain yang lebih besar dalam darah dibanding kelompok yang bersepeda lebih lama.
Sprint juga memicu peningkatan cepat pada protein yang berkaitan dengan pembentukan ulang jaringan dan pertumbuhan pembuluh darah. Pada olahraga intensitas sedang, beberapa protein baru muncul beberapa jam setelah latihan selesai.
Sementara Asad R. Siddiqi, asisten profesor rehabilitasi klinis di Weill Cornell Medical College yang tidak terlibat dalam studi itu mengatakan, hasil itu menunjukkan kalau tubuh merespons latihan singkat dan sangat intens dengan cara yang berbeda, dibanding olahraga lebih lama dengan intensitas lebih stabil.
Menurutnya, hal itu masuk akal karena dua jenis olahraga tersebut memberi beban yang berbeda bagi tubuh.
Meski demikian, studi ini memiliki keterbatasan. Jumlah pesertanya kecil dan tidak beragam, karena hanya melibatkan laki-laki muda yang sehat secara metabolik. Karena itu, hasilnya belum tentu berlaku untuk semua kelompok masyarakat.
Peneliti juga mencoba melihat kaitan temuan tersebut dengan kesehatan jangka panjang. Mereka menganalisis data lebih dari 53.000 orang dalam UK Biobank dan menemukan banyak protein yang meningkat setelah sprint, berkaitan dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis, seperti obesitas dan diabetes tipe 2.
Cohen mengatakan, molekul yang dipengaruhi oleh sprint kemungkinan berperan sebagai sinyal yang berkaitan dengan manfaat olahraga bagi tubuh.
Namun, ia menegaskan masih dibutuhkan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar untuk memastikan apakah perubahan molekul itu benar-benar menghasilkan manfaat kesehatan yang lebih besar. Para ahli juga mengingatkan, hasil studi ini bukan alasan untuk hanya melakukan sprint atau olahraga intensitas tinggi.
Siddiqi menilai, hal terpenting tetap membangun kebiasaan bergerak dan kebugaran dasar. Ia menyarankan kombinasi latihan kekuatan, latihan kardio atau aerobik, serta latihan keseimbangan.
Bagi orang yang baru memulai olahraga intensitas tinggi atau latihan berdurasi panjang, peningkatan intensitas sebaiknya dilakukan perlahan. Pilih olahraga yang terasa menantang, tetapi masih memungkinkan untuk berbicara saat melakukannya.
Jika memiliki keterbatasan fisik atau kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga profesional olahraga sebelum mencoba latihan yang lebih berat. (bil/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

