“Justru atlet yang sudah sering menang memiliki tekanan lebih besar untuk mempertahankan prestasi. Sementara atlet pemula juga tertekan untuk bisa menjadi juara. Keduanya sama-sama memiliki beban mental,” ujarnya.
Selain tekanan prestasi, Nabil menyoroti kebiasaan atlet laki-laki yang cenderung memendam persoalan dibandingkan menceritakannya kepada orang lain.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperburuk kesehatan mental jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Ini fenomena yang belum banyak dibahas. Anak laki-laki ketika menghadapi masalah sering tidak menyalurkannya kepada orang tua. Di dunia olahraga, mereka lebih banyak berinteraksi dengan pelatih. Jika semua dipendam, tentu akan menghambat perkembangan dan prestasi,” katanya.
Untuk itu, KONI Jatim akan menginisiasi deklarasi yang mendorong atlet laki-laki lebih berani menyampaikan keluhan, tekanan, maupun persoalan kepada pelatih sebagai figur terdekat dalam proses pembinaan.

NOW ON AIR SSFM 100

