Senin, 15 Agustus 2022

Nama Mahfud MD Termasuk yang Dibahas Masyayikh PBNU Selain Cak Imin

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
KH. Marzuqi Mustamar Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Syabilurrosyad Malang sekaligus Ketua PWNU Jatim di Kantor PWNU Jatim, Kamis (9/8/2018). Foto: Istimewa

Nama Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) memang sudah sempat dibahas oleh para Masyayikh (kiai sepuh) PBNU untuk diusulkan maju ke Istana Negara.

KH. Marzuqi Mustamar Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Syabilurrosyad Malang, sekaligus Ketua PWNU Jatim terpilih mengatakan, selain kedua nama itu ada nama Muhammad Romahurmuziy (Gus Romy).

Namun, dari ketiga nama itu memang yang belakangan santer memiliki kans maju sebagai cawapres mendampingi Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 hanya Mahfud MD dan Cak Imin.

Marzuqi mengatakan, tiga nama itu memang sempat muncul dalam rapat-rapat Masyayikh di PBNU, yang mana dirinya juga mengikuti rapat itu dan mendengarkan langsung dawuh (perintah) para Masyayikh.

“Waktu itu ada nama Cak Imin, Gus Romy, Pak Mahfud, dan semua tokoh-tokoh di Jatim. Cuma selanjutnya mana yang diusulkan ke istana itu diserahkan ke PBNU,” katanya ditemui di PWNU Jatim, Kamis (9/8/2018).

Saat itu, kata Marzuqi, pertimbangan Masyayikh berasal dari banyak hal. Marzuqi sendiri, sebagai pribadi, menyimpulkan bahwa kans terbesar untuk diusulkan ada pada Cak Imin.

“Saya kan hadir di acara itu. Tapi secara pribadi kalau saya memahami, menyimpulkan, kansnya Cak Imin untuk diusulkan para Masayikh melebihi 50 persen,” katanya.

Mahfud MD, kata Marzuqi, saat itu memang masuk pertimbangan Masyayikh dan dianggap tokoh hebat. Tapi dari segi usia, Mahfud MD dianggap sudah agak sepuh (tua).

“Untuk 2024 kuatir tidak nutut. Kalau yang diajukan pak Mahfud nanti repot nyari figur lagi di 2024. Kalau itu Gus Romy atau Cak Imin, umurnya masih memungkinkan,” ujarnya.

Pertimbangan para Masyayikh, kata dia, bukan pertimbangan like and dislike. Keinginan para kiai, agar bangsa Indonesia di masa depan tetap nasionalis yang islami, sekaligus islami yang nasionalis.

“Nah, andai satu atau dua kader ini (Cak Imin atau Gus Romy) yang diambil Pak Jokowi untuk wapres, lumayan dia 5 tahun bisa berpenetrasi. Indonesia akan tetap Abang-Ijo, nasionalis agamis, agamis yang nasionalis. Jadi 2024 pun tidak terlalu berat,” ujarnya.

Namun, belakangan ini nama yang justru muncul sebagai cawapres justru Mahfud MD. Dia disebut-sebut sesuai dengan inisial “M” seperti yang disebutkan oleh Jokowi. Meskipun Cak Imin juga berinisial “M”.

Pernyataan Marzuqi ini secara langsung menyangkal bahwa PBNU menyebut bahwa Mahfud MD bukanlah NU sebagaimana sempat dilontarkan oleh KH Said Aqil Siradj, Ketua PBNU.

“PBNU tidak mengatakan itu. Mungkin ada orang PBNU yang secara pribadi menyebutkan itu, dia ada data tentang si fulan begini, si fulan begitu,” ujarnya.

Marzuqi mengatakan, dirinya adalah pesuruh para Masayikh. Tanpa melibatkan posisinya sebagai Ketua PWNU Jatim, dia mengaku punya kewajiban untuk meneruskan dawuh para Masyayikh.

“Kalau Masyayikh A, saya juga A, kalau Masyayikh B, saya juga B. Secara pribadi, kalau sama NU tidak boleh karena NU secara kelembagaan enggak berpolitik, saya berkewajiban ikut mengamankan dawuhnya Masayikh,” ujarnya.

Dia juga menyarankan, ada baiknya umara (pemimpin pemerintahan) mengikuti apa yang menjadi keputusan Masyayikh. Karena para Masyayikh, tidak hanya bermusyawarah ketika memutuskan sesuatu, tapi juga dengan melakukan istikharah.(den/tin/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Senin, 15 Agustus 2022
25o
Kurs