Senin, 26 Oktober 2020

Suroboyo Mbois, Ide Lugas Mengetuk Kesadaran Warga Kota

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Tangkapan layar Suroboyo Mbois video Youtube..

Belakangan ini, muncul gagasan kota ideal bernama Suroboyo Mbois. Sebuah kota imajiner yang disajikan sebagai autokritik pada kota tetangganya, Surabaya.

Duet Kuncarsono dan Agnes Santoso, lalu hadir sebagai pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Suroboyo Mbois itu. Dua sosok muda ini memerankan kesuksesan pemimpin di kota antah berantah bernama Suroboyo Mbois. Dialog mereka banyak mendedahkan satire pada kota tetangganya Surabaya.

Kuncarsono inisiator Suroboyo Mbois bilang, konsep konten yang sudah tayang di youtube tiga episode ini ingin menyampaikan gagasan baru dengan gaya baru.

“Tidak sekadar kritik tapi menyampaikan gagasan. Apalagi nyinyir, tentu tidak,” ujar Kuncarsono kala berbincang dengan suarasurabaya.net, Jumat (18/9/2020).

Suroboyo Mbois kata Kuncar lebih dari sekadar konten kreatif. Tapi sebuah gerakan sosial yang lebih mengangkat kearifan lokal. Karena sebenarnya, gerakan Suroboyo Mbois sudah dimulai sejak awal tahun lalu.

“Tidak sekadar kreator konten. Tapi kami mengorganisir anak muda dan masyarakat untuk peduli pada kotanya,” katanya.

Lalu, gerakan ini bermutasi mengikuti zaman. Hingga muncul ide membuat konten Wali Kota dan Wakil Wali Kota Suroboyo Mbois. Konten pertama, sebagai babak pengenalan diri. Episode berikutnya soal kerja pemimpin, soal kota, dan bagaimana menyelesaikan masalah.

Konten itu dibuat atas dasar riset, yang diramu oleh tim kreatif dan tim produksi sendiri. Karena kedua sosok (Kuncar dan Agnes) berlatar belakang Jurnalis, maka mereka cukup lugas mengemas isu sesuai fakta yang dihadapi masyarakat kota Surabaya. Sehingga, Kuncar berharap sajiannya bisa menjadi hiburan yang cerdas.

“Tidak nyiyir. Kami tidak ingin jadi kenyinyiran baru. Tantangannya, bagaimana semua pihak menangkap ini sebagai hiburan yang cerdas,” kata lulusan Fisip Unair ini.

Dia mencontohkan salah satu konten berjudul Kolaborasi Hidup dan Mati. Dalam konten video itu digambarkan dialog dua orang pemimpin di tengah makam dan aktifitas warga, lalu di antara bangunan di bibir sungai kumuh.

Kuncar bilang, dalam konten itu ada sebuah harapan ideal sebuah pembangunan kota. Kota semestinya dibangun melalui konsensus fisik dan non fisik. Kota itu ideal kalau nyaman ditinggali, mudah mendapat kerja, dan tempat yang enak untuk bersenang-senang

“Hidup di depan sungai kemproh (kumuh), mungkin bagi mereka nyaman, padahal dalam keterpaksaan. Di negara maju kan sungai-sungai dikelola dengan baik, pun juga pemukimannya, demi kenyamanan warganya,” katanya.

Direktur Kultura Nusantara ini secara lugas mengatakan, Suroboyo Mbois masih sebuah gerakan penyadaran publik. Karena tidak semua kebutuhan masyarakat harus dicukupi atau minta negara.

“Penyelenggara negara tidak mengambil kebijakan terserah dia. Kami setidaknya sudah membangun kesadaran bersama. Targetnya kesadaran publik. Tidak semua problem masyarakat bisa diselesaikan negara,” kata pria 42 tahun ini.

“Ketika masyarakat berdaya, malah pemerintah yang selama ini semestinya jadi hambanya rakyat ya seperti ini idealnya. Selama masyarakat berharap pada negara ya pasti jadi subordinat negara. Kita bisa bikin dan menghadirkan ruang publik, negara akan sadar,” katanya.

Menyuguhkan Solusi

Agnes Santoso pasangan duet Kuncarsono memiliki keprihatinan sendiri pada kondisi politik kepemimpinan di kota sebesar Surabaya. Dia prihatin, proses suksesi politik hanya didominasi segelintir elit.

“Kami melihat kota sebesar Surabaya kaderisasinya tidak ada. Kita tahu bagaimana perpolitikan Surabaya hanya didominasi di tataran elit tidak ada kaderisasi. Bener-bener krisis kepemimpinan. Bahkan rekom ditentukan di menit terakhir, diolor-olor, terus di kubu satunya juga muncul dengan gaya borongnya. Seolah-olah politik kepemimpinan hanya milik mereka,” katanya.

Keprihatinan itu, kata jurnalis TV lokal ini, yang memantik proses pembuatan konten kreatif itu. Konten itu mencoba mereka sampaikan dengan lugas dan bisa mengetuk respons dialog dari pemimpin kota tetangga yakni Surabaya.

“Kami mencoba menyampaikan dengan lugas idealnya kota sekelas Surabaya yang mbois itu kayak gini. Anak muda dilibatkan, kolaborasi, ada keterbukaan, tidak gontok-gontokan,” kata Agnes.

Maka kata Agnes, di episode awal konten itu memperlihatkan bagaimana pemecahan masalah yang ada di Suroboyo Mbois, bisa dibawa ke kota tetangga Surabaya.

“Kami berharap ada tukar pikiran. Syukur-syukur kita bisa bertamu juga ke ibu Risma berdiskusi, atau ketemu masing-masing calon wali kota Surabaya,” kata lulusan FH Unair ini.

Agnes bilang, meski ada beberapa dialog satire tapi tim Suroboyo Mbois tetap mengedepankan kesejukan dalam memaparkan dialog. Tim terus berdiskusi, mengevaluasi jangan sampai konten ini berujung nyiyir.

“Kemarin memnag dihindari kata kata yang nyinyir. Karena memang jangan sampai kita dianggap partisan dari salah satu (calon). Kita juga tidak mau dianggap pemecah suara. Tapi, anak muda inginnya seperti ini, ini lo kota imajiner anak muda. Bukan untuk nyinyir, tapi membangun partisipasi banyak orang,” katanya.

Dalam konten episode selanjutnya, tim Suroboyo Mbois akan semakin lugas memberikan solusi alternatif. Bahkan bila berkesempatan, solusi ini bisa diterapkan oleh Wali Kota Surabaya hasil Pilkada 2020 nanti.

“Ending kita tetap memberikan solusi. Kita terus bangun diskusi bisa menyajikan saran untuk diterapkan wali kota berikutnya,” katanya.

Nah, kata Agnes, bagi anak muda Surabaya tidak perlu berkecil hati. Terus kreatif. “Tonton Channel Youtube Suroboyo Mbois TV,” tutupnya.(bid/lim)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Bundaran Margomulyo

Macet di Tol Waru arah Satelit

Kecelakaan Truk di Tol Ngawi-Solo

Surabaya
Senin, 26 Oktober 2020
29o
Kurs