Senin, 23 November 2020

Survei Pilbup Sidoarjo: Elektabilitas Muhdlor Tertinggi, Disusul Kelana, Lalu Cak Nur

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Hasanuddin Ali CEO Alvara Research Center. Foto : Istimewa

Hasil survei elektabilitas tokoh di Pilbup Sidoarjo 2020 oleh Alvara Research Center menunjukkan, Muhdlor Ali yang tertinggi. Selanjutnya ada Kelana Aprilianto, lalu petahana Nur Ahmad Syaifuddin (Cak Nur).

Alvara Research Center mengklaim sebagai anggota Esomar organisasi riset pasar dunia, Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepsi), dan Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (Perpi).

Survei untuk mengukur popularitas dan elektabilitas tokoh potensial Pilbup Sidoarjo itu dilakukan 25 Januari-7 Februari kemarin. Ada 1.005 responden dari seluruh kecamatan di Sidoarjo yang dilibatkan.

Alvara Research Center melakukan survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 3,16 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Soal popularitas, hasil survei menunjukkan Ahmad Muhdlor Ali punya tingkat pengenalan publik 69,1 persen disusul Kelana Aprilianto 49,9 persen; Bambang Haryo 29 persen; dan Cak Nur 20 persen.

Tokoh lainnya ada Hidar Assegaf dengan tingkat popularitas 14,3 persen; Ahmad Amir Aslichin (Iin) 10,9 persen; dan Bahrul Amig 10,5 persen. Popularitas tokoh lainnya di bawah 10 persen.

Sedangkan untuk aspek elektabilitas (keterpilihan) jika Pilkada dilakukan hari ini, Muhdlor juga yang tertinggi dengan skor 38,7 persen jauh di atas tokoh pesaing terdekatnya Kelana Aprilianto.

Elektabilitas Kelana cuma 10,5 persen, kandidat lainnya belum ada yang melampaui 10 persen, seperti Cak Nur 6,4 persen, Bambang Haryo 4,4 persen, dan Achmad Amir Aslichin 1,9 persen.

Nama-nama lain di bawah itu. Adapun dari total responden yang belum memutuskan pilihan sebanyak 26,0 persen.

“Hasil survei ini menunjukkan efektivitas kerja masing-masing kandidat. Muhdlor unggul karena kerja masif di akar rumput dan ketepatan isu yang diusung. Dari hasil wawancara ke responden, belum ada gerak lapangan yang semasif Muhdlor. Kandidat lain lebih bersifat sporadis dan hanya mengandalkan baliho,” ujar Hasanuddin Ali CEO Alvara Research Center.

Kalau nama-nama kandidat hasil survei itu dikerucutkan jadi empat, elektabilitas tertinggi Antara lain Muhdlor 39,7 persen; Kelana Aprilianto 11,5 persen; Cak Nur 7,1 persen; dan Bambang Haryo 4,7 persen.

Hasanuddin menjelaskan, tingkat popularitas dan elektabilitas kandidat relatif berbanding lurus, kecuali Cak Nur dan Bambang Haryo. Meski popularitas Bambang Haryo lebih tinggi dibanding Nur, elektabilitas Nur ternyata lebih unggul dari Bambang.

Hasanuddin menggarisbawahi, semua kandidat masih memiliki ruang untuk meningkatkan popularitas-elektabilitasnya, mengingat ada waktu sekitar 7 bulan sampai Pilkada. Kalau ingin mengejar Muhdlor, kandidat lain harus semakin intens terjun ke lapangan.

“Semua kemungkinan masih terbuka, bergantung pada kecermatan komunikasi publik, kekuatan jaringan, dan seberapa intens menggarap akar rumput,” ujar Hasanuddin dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (20/2/2020).

Hasanuddin menerangkan, Muhdlor dipilih responden karena dinilai sebagai tokoh muda yang mencerminkan kebaruan, visioner, dan mampu membawa harapan perubahan, serta berlatar belakang santri Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara Kelana mempunyai keunggulan di mata pemilih karena dinilai sebagai pengusaha, sehingga ada harapan bisa memajukan ekonomi Sidoarjo. Sedangkan Nur dipilih karena dinilai berpengalaman dalam pemerintahan.

Dalam survei ini, Alvara juga mengukur tingkat kepuasan publik. Hasilnya, kepuasan publik Sidoarjo sebesar 55,4 persen. Warga paling tidak puas terhadap program pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan infrastruktur jalan.

“Kepuasan publik yang relatif tidak tinggi, yaitu hanya 55,4 persen, menjadi ruang bagi kandidat untuk mengasosiasikan diri bukan bagian dari kepemimpinan sebelumnya. Isu itu pula yang diambil seluruh kandidat dengan mengusung perubahan di Sidoarjo,” ujarnya.

Menurutnya, sejauh mana kandidat bisa meyakinkan publik, itu akan ditentukan oleh efektivitas komunikasi kandidat untuk mencitrakan dirinya bahwa mereka akan menerapkan inovasi kepemimpinan yang berbeda dibanding era sebelumnya.

Temuan survei juga menyebutkan, 91,90 persen responden dekat atau berafiliasi dengan NU, sedangkan 7,74 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah, dan lainnya ormas-ormas agama selain NU dan Muhammadiyah.

“Secara sosiologis, kandidat yang mampu mengasosiasikan diri kepada ormas NU relatif lebih bisa diterima masyarakat Sidoarjo,” ujar Harry.(den/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pohon Tumbang Menutup Jalan Utama Bangkalan Kota

Truk Tabrak Tiang Listrik di Pandaan

Serikat Pekerja Blokir Basuki Rahmat Surabaya

Serikat Pekerja Demo di Surabaya

Surabaya
Senin, 23 November 2020
29o
Kurs