Senin, 4 Juli 2022

Tanggapan Pengamat Soal Debat Kedua Pilwali Surabaya 2020

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Debat Publik II Calon Walikota & Calon Wakil Walikota Kota Surabaya Tahun 2020, Rabu (18/11/2020). Foto: Istimewa

Debat publik kedua Pilwali Surabaya 2020 tuntas, Rabu (18/11/2020). Kedua Paslon selain menyampaikan visi-misi juga menyampaikan janji, dan klaim data berkaitan Kota Surabaya.

Ada yang menarik dalam debat ini di mana sejak segmen ketiga pertanyaan Paslon Eri-Armuji (Erji) mulai melempar jebakan untuk Paslon Machfud-Mujiaman (Maju).

Jebakan itu adalah ICOR dan ILOR. Paslon Erji sejak diperkenankan menyampaikan pertanyaan sudah menanyakan tentang kepuasan publik terhadap pemerintah dan dua istilah itu.

Pada akhirnya, di sesi debat terbuka di dua segmen Paslon Maju tidak menjawab dengan terang pertanyaan itu. Mujiaman bahkan di akhir tanggapan menyatakan pengakuan.

“Meskipun dia hafal ICOR-IKON, yang penting penyelesaian masalahnya. Kenyataannya, ada pertumbuhan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) 26 persen. Tenaga kerja yang tidak bekerja sekarang 151 ribu orang,” ujarnya.

Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.EngK Kepala Pusat Kajian Kebijakan Publik-Bisnis dan Industri ITS menyoroti tentang jebakan ICOR dan ILOR tersebut.

Menurutnya, ICOR dan ILOR adalah strategi Paslon 1 dengan membuat pertanyaan yang kira-kira pasangannya sulit untuk menjawabnya. “Ini seperti di debat publik Pilpres,” ujarnya.

Arman Hakim menyatakan ini sebagai narasumber Cek Fakta Debat Publik Pilwali Surabaya 2020 yang digelar oleh Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim.

“ICOR dan ILOR adalah efisiensi investasi. ICOR tinggi berarti investasinya tidak efisien, bila ILOR tinggi penyerapan investasi jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menggambarkan seberapa banyak tambahan investasi yang diperlukan untuk menghasilkan tambahan satu unit usaha.

Oleh karena itu besaran ICOR digunakan untuk memperkirakan besarnya kebutuhan investasi untuk mencapai target pertumbuhan yang ditetapkan pada masa yang akan datang.

Sedangkan instrumen Incremental Labour Output Ratio (ILOR) adalah indikator untuk mengevaluasi kinerja perekonomian terhadap kesejahateraan masyarakat dalam hal ketenagakerjaan.

“Investor senang kalau ICOR rendah, sehingga bisa otomatisasi. Bagi Pemda, mereka ingin penyerapan tenaga kerja atau ILOR juga tinggi. Dua hal kontradiktif ini harus disesuaikan,” ujar Arman.

Menurutnya, kedua Paslon sama-sama punya keinginan untuk meningkatkan investasi dan menyerap tenaga kerja. Pekerjaan rumahnya, tenaga kerja tidak akan bisa diserap bila mereka adalah non labour skill.

“Jadi PR-nya bagi kedua siapapun yang terpilih wali kota nanti, bagaimana meningkatkan capacity building SDM di Kota Surabaya sehingga bisa terserap dalam investasi industri 4.0 di Kota Surabaya,” ujarnya.

Sementara itu, Suko Widodo Akademisi Komunikasi dan Pengamat Politik Unair menyoroti tentang performa Eri Cahyadi yang menutup closing statement dengan doa.

“Menutup dengan doa itu menarik. Armuji menurut saya jauh lebih baik dari kemarin. Mujiaman juga lebih baik. Dari sisi kekompakan, kedua Paslon sama-sama kompak, wakil masing-masing sudah dimunculkan,” ujarnya.

Hanya saja, pria yang akrab disapa Sukowi itu menilai bahwa kedua Paslon sejak awal debat belum mampu menampilkan data baku yang komprehensif dengan perencanaan detailnya.

“Semua ngomong Urban Farming, tapi berapa sebenarnya angkanya, pencapaiannya apa dan bagaimana? Saya belum melihat diksi yang membuat publik tertarik. Belum ada. Dari keduanya belum ada kata-kata yang mendorong masyarakat untuk mendukung mereka,” ujarnya.

Dia mencatat, kedua Paslon mengumbar data berbeda. Misalnya soal stunting. Paslon Erji menyebut data 7.000 anak, sedangkan Paslon 2 menyebutkan 15 ribu anak. Dinkes Surabaya menurutnya mengeluarkan data 19 ribu pada 2019 lalu.

“Dalam perspektif komunikasi, bahasa Paslon 1 lebih runtut. Paslon 2 menggambarkan perlawanan terhadap petahana. Tapi pertarungannya lebih pada fokus program Pemkot Surabaya. Belum terlihat ide pencapaian orisinil dari keduanya,” ujar Suko.

Dia menyimpulkan, kedua Paslon masih terlalu sering menyampaikan keinginan masing-masing. Belum tergambar bagaimana keinginan tersebut bisa mereka capai secara argumentatif dan bisa menarik minat publik mendukung mereka.(den/dfn/lim)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 4 Juli 2022
28o
Kurs