Jumat, 14 Mei 2021

Ngabuburit BKNP PDIP, Belajar dari Dakwah Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Zainul Milal Bizawi Sejarawan Santri at mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan BKNP PDIP), Selasa (4/5/2021) Foto: Istimewa

Umat Islam Indonesia sebaiknya belajar dari keteladanan Sunan Giri, salah satu dari Walisongo, yang berdakwah dengan cara merangkul dan bukan memukul.

Hal itu diungkapkan oleh Zainul Milal Bizawi Sejarawan Santri saat mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan BKNP PDIP), Selasa (4/5/2021) sore. Acara yang ditayangkan jelang berbuka puasa itu mengambil tema ‘Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul’ dengan Rano Karno Sekretaris BKNP PDIP sekaligus anggota DPR RI sebagai pembawa acara.

Sebagai seorang sejarawan, Zainul menjelaskan Sunan Giri memiliki peranan penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara, dengan memanfaatkan kekuasaan dan jalur perniagaan. Ketika Walisongo yang lain tidak dekat dengan kekuasaan, kondisi berbeda pada Sunan Giri. Sebab beliau adalah keturunan trah Brawijaya.

Namun walau memiliki akses pada kekuasaan, Sunan Giri justru tak memanfaatkan kondisi itu untuk menghilangkan tradisi Hindu pada masa itu.

“Tapi justru beliau biarkan saja, dirangkul pelan-pelan, kemudian disisipi nilai-nilai Keislaman,” jelas Zainul.

Kedudukannya sebagai penguasa menjadikannya begitu mudah dalam merangkul semua kalangan. Sunan Giri bisa memahami kondisi sosial politik saat itu, dan digunakan untuk melakukan dakwah.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, meskipun Sunan Giri berdomisili di daerah Gini, namun pengaruhnya merambah hingga ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok.

“Sunan Giri ini sangat cerdas sekali, meskipun secara kedudukan ia berdomisili di Giri, tapi penyebarannya begitu luas, sampai Lombok, Kalimantan, dan bahkan sampai ke Minangkabau,” jelas Zainul.

Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren pada masanya. Dalam dakwahnya, Sunan Giri menggunakan pendekatan kultural. Misalnya dengan menciptakan beberapa tembang dan permainan untuk anak-anak.

Salah satu yang cukup dikenal adalah cublak-cublak suweng. Kata Zainul, permainan ini diyakini memiliki makna dan pesan filosofis yang cukup mendalam. Yaitu mengajarkan agar manusia tidak menuruti hawa nafsu dan keserakahan dalam mencari harta atau kebahagiaan. Namun, gunakan hati nurani dan tetap rendah hati agar harta atau kebahagiaan yang diperolehnya mengandung berkah untuk diri sendiri dan orang lain.

“Sunan Giri menggunakan model akulturasi dengan memanfaatkan kekuasaanya yang juga merangkul masyarakat biasa dengan kesenian,” ulas dia.

Baginya, kisah Sunan Giri ini juga menyiratkan betapa pentingnya untuk membuka lagi buku-buku sejarah yang bercerita tentang budaya yang sudah ada dan berkembang. Sehingga kelestarian budaya Nusantara tetap terjaga.

Itulah sebabnya, Zainul berharap jangan sampai anak bangsa saat ini menghancurkan kebudayaan adiluhung demikian. Karena sejarah Nusantara adalah sejarah dari para walisongo, seperti yang dilakukan oleh Sunan Giri.

“Tradisi yang sudah ada sebaiknya dijaga. Tradisi atau budaya bukanlah syirik melainkan terdapat nilai-nilai yang positif termasuk dengan nilai untuk menjaga alam,” kata Zainul.

“Bung Karno pernah mengatakan untuk Ber-Tuhan dengan kebudayaan. Yang artinya kita harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan juga toleransi,” pungkas Zainul. (faz/frh/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Wadungasri Macet

Kecelakaan di Gunungsari

Kecelakaan di Manyar Gresik

Truk Terguling, Solar Menggenangi Jalan

Surabaya
Jumat, 14 Mei 2021
28o
Kurs