Rabu, 1 Februari 2023

Ketua MPR RI Buka Pintu Lebar Kedatangan Ketua Parlemen Rusia Awal Oktober 2022

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Bambang Soesatyo Ketua MPR RI saat bertemu dengan Lyudmila Georgievna Vorobieva Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia. Foto: Istimewa

Bambang Soesatyo (Bamsoet) Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar menyambut baik keinginan Matvienko Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Rusia untuk bertemu dirinya secara resmi selaku pimpinan MPR RI pada Kamis, 6 Oktober 2022 di Gedung MPR RI.

Kunjungan Matvienko ke Indonesia tersebut sekaligus untuk menghadiri Parliamentary Speaker’s Summit (P20) yang dilaksanakan pada 5-7 Oktober 2022, sebagai bagian dari kepemimpinan Indonesia dalam G-20.

“Pertemuan tersebut sangat penting untuk membahas berbagai isu penting yang sedang terjadi di dunia, termasuk peningkatan hubungan Indonesia dengan Rusia. Di antaranya mendorong perdamaian Rusia – Ukraina, peningkatan hubungan diplomatik antar parlemen Rusia – Indonesia, peningkatan kerjasama Indonesia – Rusia di sektor investasi, perdagangan, pendidikan, pariwisata, hingga people to people contact antar warga kedua negara,” ujar Bamsoet usai menerima Lyudmila Georgievna Vorobieva Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia secara informal di Rumah Dinas Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (26/9/2022).

Turut hadir Robert Kardinal Anggota MPR RI/DPR RI dan Harvick Hasnul Qolbi Wakil Menteri Pertanian RI .

Bamsoet menjelaskan, terkait situasi ketegangan antara Rusia dengan Ukraina, sikap Indonesia tetap mengedepankan politik bebas aktif. Misalnya ditunjukan dengan menjadi satu di antara 141 negara yang mendukung resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang meminta Rusia menghentikan serangannya ke Ukraina.

Hal ini bukan berarti Indonesia memihak kepada Ukraina, melainkan atas dasar kemanusiaan dan menolak perang. Walaupun mendukung resolusi, sikap Indonesia tetap mendorong adanya penegakan HAM di wilayah konflik dan penyelesaian melalui dialog dan diplomasi.

“Dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB tanggal 7 April 2022 mengenai pembekuan Rusia dari keanggotaan Dewan HAM, delegasi Indonesia memutuskan abstain. Pertimbangannya, Majelis Umum PBB perlu bersikap hati-hati dan tidak mencabut hak sah anggotanya sebelum memiliki seluruh fakta yang ada. Majelis Umum PBB tidak boleh menciptakan preseden negatif yang dapat menjatuhkan kredibilitasnya sebagai badan yang terhormat,” jelas Bamsoet.

Kata dia, penyelesaian ketegangan Rusia – Ukraina membutuhkan dukungan dari negara-negara Barat, Eropa, bahkan Asia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Turki, bahkan Indonesia. Karena itu, berbagai negara dunia lainnya juga harus turut membantu dan mendorong penyelesaian ketegangan yang terjadi antara Rusia – Ukraina. Sekaligus mewaspadai jangan sampai ada pihak-pihak yang memperkeruh suasana.

“Berbagai proses menuju perdamaian sebenarnya telah dilakukan. Misalnya, Turki telah berperan lima kali menjadi tuan rumah perundingan pertemuan Rusia – Ukraina. Bahkan Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian terpisah dengan Turki dan PBB untuk membuka jalan bagi Ukraina yang merupakan salah satu lumbung pangan utama dunia, untuk mengekspor 22 juta ton biji-bijian dan barang-barang pertanian lainnya seperti Gandum yang tertahan di pelabuhan Laut Hitam karena serangan Rusia. Kesepakatan itu juga memungkinkan Rusia mengekspor biji-bijian dan pupuk,” terang Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, hubungan bilateral antara Rusia dengan Indonesia telah terjalin baik sejak 1956. Rusia telah menjadi satu di antara mitra penting bagi Indonesia. Sebagai Ketua MPR RI, Bamsoet setidaknya telah tiga kali menerima Lyudmila Georgievna Vorobieva Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia yakni pada 26 November 2019, 22 Maret 2021, dan pada hari ini 26 September 2022. Di tingkat pemerintahan, selama tahun 2000-2020 tercatat 13 kali pertemuan bilateral antara Joko Widodo Presiden dengan Presiden Putin 4 kali, di antaranya dilakukan saat kunjungan, dan 9 kali lainnya di sela-sela konferensi internasional.

“Nilai investasi langsung Rusia di Indonesia pada tahun 2020 tercatat sebesar USD 4,6 juta dengan 202 proyek, yang sebagian besar di sektor industri kimia dan farmasi. Neraca perdagangan kedua negara tahun 2020 mampu mencatat surplus di pihak Indonesia sebesar USD 16 juta, dengan total volume perdagangan sebesar USD 1,93 miliar. Nilai ini terbilang kecil dibanding potensi yang ada. Mengingat Rusia adalah kekuatan ekonomi nomor 12 dunia, sementara Indonesia nomor 16. Karena itu, masih terbuka berbagai peluang untuk meningkatkan neraca perdagangan kedua negara, misalnya dari sektor pertanian seperti palm oil, karet, kakao, gandum, hingga daging,” pungkas Bamsoet. (faz/ipg)

Berita Terkait