Sabtu, 27 Juni 2026

Ekonomi Kreatif Dinilai Mampu Pulihkan Lingkungan dan Budaya, Ini Penjelasan Wamen Ekraf

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Irene Umar Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) berbicara dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Jumat (26/6/2026). Foto: Kementerian Ekonomi Kreatif

Irene Umar Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) menegaskan bahwa industri kreatif memiliki peran strategis dalam memperluas penerapan ekonomi restoratif di Indonesia.

Menurutnya, sektor ini mampu menghadirkan praktik pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, melestarikan budaya, dan memperkuat ekosistem sosial.

Dalam forum diskusi sebuah diskusi yang mengangkat tema ekonomi restoratif, Irene mengatakan industri kreatif dapat menjembatani penerapan konsep restoratif melalui seluruh rantai nilai, mulai dari proses produksi hingga pemasaran produk kepada masyarakat.

“Dari sebelum storytelling sudah ada yang namanya produksi barangnya secara tidak ekstraktif, bagaimana pengemasan barangnya, bagaimana pemasaran barangnya sampai ke konsumen. Ini adalah tali rantai yang tidak bisa terputuskan,” ujar Irene dilansir dari Antara pada Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat sebagai fondasi pembangunan ekonomi masa depan.

Menurut Irene, konsep ekonomi restoratif merupakan evolusi dari pendekatan sustainability. Jika selama ini keberlanjutan lebih berfokus pada upaya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, ekonomi restoratif mendorong pelaku usaha untuk turut memulihkan kondisi lingkungan, menjaga warisan budaya, sekaligus memperkuat kehidupan sosial melalui aktivitas ekonomi.

Peran industri kreatif dinilai penting karena mampu menghubungkan praktik-praktik restoratif dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran, seluruh tahapan tersebut dapat menjadi media edukasi yang efektif, khususnya bagi generasi muda.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka bahwa ekonomi restoratif merupakan pendekatan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, melainkan turut berorientasi pada pemulihan lingkungan, pelestarian budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah kerangka ASIK yang terdiri atas Alam, Sejarah, Imajinasi, dan Kolaborasi.

Kerangka ini dinilai mampu menjadi landasan dalam membangun potensi daerah dengan menciptakan nilai ekonomi tanpa mengorbankan sumber daya alam maupun identitas budaya yang menjadi keunggulan lokal.

Irene menilai masa depan ekonomi kreatif Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, kekayaan budaya dan sejarah Indonesia merupakan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak negara.

“Inovasi dan kolaborasi ini merupakan the future. Unique selling points ekonomi kreatif Indonesia itu terletak pada budaya dan sejarah kita. Dengan adanya itu barulah kita bisa mendefinisikan ke depannya seperti apa,” kata Irene.

Ia menambahkan, Indonesia sesungguhnya telah memiliki modal besar berupa kreativitas dan imajinasi masyarakat.

Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi mencari sumber daya baru, melainkan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan agar potensi ekonomi kreatif di berbagai daerah dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (ant/saf/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 27 Juni 2026
28o
Kurs