Rabu, 1 Februari 2023

Ridwan Kamil Merapat, Golkar Masih Ingin Dorong Airlangga Hartarto sebagai Capres 2024

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan

Leo Agustino Direktur Riset Indonesia Politics Research and Consulting (IPRC) mengatakan, langkah Partai Golkar meminang Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat merupakan salah satu upaya untuk memenangkan Golkar di Jawa Barat pada Pemilu 2024.

Menurutnya, strategi itu penting buat partai berlambang pohon beringin. Karena, zosok Ridwan Kamil atau Kang Emil memiliki elektabilitas yang cukup tinggi serta populer di kalangan kaum milenial.

“Posisi Jabar sebagai tradisi Golkar mau diambil alih kembali. Saya menilai begitu, dengan cara mengambil putra terbaik Jabar untuk duduk di Golkar. Kang Emil dikenal sebagai kepala daerah yang punya banyak inovasi, ketanggapan teknologi dan pengetahuan, dan kans besar untuk mendapatkan suara milenial,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (29/11/2022).

Dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) itu melanjutkan, Kang Emil menunjukkan keteladanan sikapnya kepada publik waktu Eril putra sulungnya mengalami musibah dan meninggal dunia.

Leo menilai, kerja nyata dan sikap berkeluarga juga menjadi modal seorang pemimpin.

“Ada jiwa kebapakan, keberpihakan pada warga. Pemilih ke depan lebih melihat calon yang merasakan kebutuhan warga, dan bisa menyiapkan dirinya, mereka hadir, itu ditunjukkan,” jelasnya.

Walau memiliki popularitas di tingkat nasional, Leo memprediksi Emil belum mendapat tiket maju sebagai capres atau cawapres pada Pemilu 2024.

“Yang saya dengar Kang Emil tidak akan maju, tapi Airlangga Hartarto yang maju. Kemudian, mesin Partai Golkar tetap mendukung Kang Emil maju sebagai gubernur,” ungkapnya.

Kalau benar begitu, artinya Partai Golkar masih mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres. Tapi, sampai sekarang belum ada keputusan tentang capres dan cawapres dari Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Sebelumnya, Kang Emil mengklaim tengah dekat dengan Partai Golkar. Sementara, ada beberapa partai juga yang tengah mendekatinya.

Terkait itu, dia meminta masyarakat menunggu keputusannya merapat ke partai politik sampai akhir tahun 2022.

Sementara, Aisah Putri Budiatri Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN) menilai rencana Ridwan Kamil bergabung dengan partai politik bisa mempengaruhi peta politik jelang Pilpres 2024.

“Saya kira langkah Kang Emil masuk partai bisa bermakna banyak, termasuk peta politik 2024,” katanya.

Peneliti yang akrab disapa Puput melanjutkan, kalau RK memutuskan bergabung dengan Partai Golkar, maka itu bisa mengubah taktik politik partai berlambang beringin dalam Pilpres 2024.

“Ketika RK masuk ke Golkar sudah pasti berniat untuk melanjutkan karier di bidang politik. Dalam kondisi ideal, RK sepatutnya meningkatkan karier politik dari Gubernur Jabar ke jenjang yang lebih tinggi dan atau lebih strategis. Dalam konteks itu, ada tiga posisi yang diasosiasikan lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden, Wakil Presiden atau Gubernur DKI Jakarta,” sebutnya.

Puput menambahkan, ada potensi RK dimajukan Golkar sebagai cawapres mendampingi Airlangga Hartarto yang jadi capres.

“Kalau RK masuk Golkar dan diproyeksikan menjadi bakal kandidat di pilpres, maka ada potensi RK diusung menjadi cawapres mendampingi Airlangga, dengan konteks Golkar juga didukung partai lain di KIB,” tambahnya.

Selain itu, Golkar bisa mengubah strategi dengan mencalonkan RK sebagai cawapres tapi bukan Airlangga capresnya.

Strategi itu kemungkinan akan dijalankan kalau ternyata lebih menarik minat partai-partai lain untuk berkoalisi dengan Golkar pada Pilpres 2024.

“RK akan menjadi kunci bagi Golkar dalam koalisi karena RK menjadi kader Golkar, seperti halnya Jokowi dulu menjadi petugas partai di PDIP,” timpalnya.

Lebih lanjut, Puput bilang RK juga bisa diposisikan sebagai investasi politik jangka panjang. Golkar bisa menempatkan RK sebagai Cagub DKI Jakarta dan maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Sedangkan Airlangga tetap menjadi kandidat dalam pilpres mendatang.

“Golkar bisa melakukan investasi politik jangka panjang karena kalau RK menang di Jakarta, maka Golkar akan memegang area politik strategis dan dalam lima tahun ke depan, RK bisa menjadi pemimpin masa depan Golkar dan capres,” pungkasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait