Rabu, 8 Februari 2023

Koalisi KIB dan PDIP Bisa Terwujud Kalau Sepakat Mengusung Ganjar-Airlangga pada Pilpres 2024

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo. Foto: Istimewa

Airlangga Hartarto Ketua Umum Partai Golkar mengatakan tidak menutup kemungkinan parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bekerja sama dengan PDI Perjuangan (PDIP).

Menurutnya, dalam politik, semua kemungkinan terbuka, apalagi menjelang pemilu.

“Semua kemungkinan selalu ada, termasuk koalisi dengan PDIP dan partai lainnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (11/1/2023).

Menanggapi dinamika itu, Ujang Komarudin Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) mengatakan koalisi antara KIB dan PDIP mungkin saja terjadi kalau keduanya mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.

Dengan begitu, Airlangga Hartarto bisa menjadi calon wakil presiden pendamping Ganjar.

“Kalau yang dicapreskan Ganjar, itu bisa ketemu. KIB bisa bertemu dengan PDIP, karena kita tahu KIB ‘pemiliknya’ Pak Jokowi. Bagaimana pun PDIP menunggu arahan Pak Jokowi untuk menentukan capres,” ucapnya kepada wartawan, Kamis (12/1/2023).

Sedangkan kalau PDIP memilih Puan Maharani sebagai capres, Ujang bilang koalisi tidak akan terbentuk, dan KIB malah bisa mengusung Ganjar sebagai capres.

“Dengan sikap tersebut, ada perbedaan antara PDIP dan Golkar sebagai inisiator parpol yang menolak sistem pemilu proporsional tertutup. Itu hal yang wajar,” tegasnya.

Walau begitu, dia menyebut selalu ada kesempatan berkoalisi dengan catatan mengusung capres yang sama dan juga jelas kesepakatan politiknya.

“Sekarang ada nama lain yang muncul sebagai bakal capres/cawapres yaitu Erick Thohir. Tapi, dari internal KIB tetap kemungkinan terbesar yang diusung adalah Airlangga,” tandasnya.

Sementara itu, Dedi Kurnia Syah Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) mengatakan ada dua faktor yang mungkin membuat koalisi KIB-PDIP terwujud.

“Pertama, Golkar tidak memiliki tokoh potensial yang bisa diusung sebagai calon presiden,” katanya.

Menurut Dedi, nama Airlangga Hartarto yang menjadi calon presiden dari Golkar ternyata lebih berpeluang mengisi peluang calon wakil presiden.

Sehingga, Golkar patut mencari sosok lain dari eksternal. Dedi juga bilang partai anggota KIB (PPP dan PAN) juga tidak mempunyai sosok yang kuat sebagai capres.

“Airlangga Hartarto dalam beberapa survei, termasuk juga kepopulerannya di masyarakat hanya punya potensi maksimal di cawapres. Artinya potensi Golkar untuk mencari kandidat presiden tentu dari partai yang lain. Tidak mungkin juga disuplai oleh PAN atau bahkan PPP,” ungkapnya.

Faktor kedua lanjut Dedi, adalah kesamaan visi-misi politik antara PDIP dan Golkar, meski pun dalam beberapa hal berbeda.

Kedua partai itu, katanya cukup lama berada dalam satu gerbong koalisi, dan tidak mempunyai rekam jejak konflik.

“Menjadi mungkin PDIP untuk berkoalisi dengan Golkar, dengan asumsi PDIP tetap memimpin koalisi,” tambahnya.

Terkait dengan kandidasi, Dedi menyatakan bisa saja kedua partai itu memasangkan capres dari PDIP dan cawapres dari Golkar.

“Jika koalisi PDIP Golkar terjadi saya kira tokoh-tokoh yang mungkin muncul adalah Ganjar Pranowo-Airlangga Hartarto atau Puan Maharani-Airlangga Hartarto,” ujarnya.

Di sisi lain, ada potensi koalisi lain kalau mencermati posisi anggota KIB. PPP juga mempunyai peluang menjalin koalisi dengan partai berlambang banteng.

“Anggota KIB yang punya potensi bergabung dengan PDIP bisa saja adalah PPP. Kenapa? Karena PPP dalam sejarahnya banyak dibantu atau mungkin hubungan PPP dengan PDIP sejauh ini selalu dekat. Artinya, bukan tidak mungkin pada 2024 nanti PDIP dengan PPP juga akan bersatu,” tutupnya.(rid/ipg)

Berita Terkait